Karya Ust. Habib Thifan
Tsufuk
BAB 1
BAB 1
MENELITI BELADIRI
MENURUT TUNTUNAN AQIDAH
ISLAMIYAH
Untuk mengkaji beladiri
hendaklah kita tidak menyimpang dari Aqidah Islamiyah, karena mengkaji beladiri
tanpa pengetahuan yang mendukung dapat mengakibatkan rusaknya Aqidah Islamiyah
kita, baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Dasar pengkajian yang
kita lakukan hendaklah sesuai dengan firman Allah I sebagai berikut :
“Dan janganlah
kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungan jawabnya”.
(Q.S. Al-Israa’ : 36)
Di
dalam ayat tersebut di atas Allah I menginginkan
kita sebagai hambanya untuk mengadakan penelitian yang mendalam tentang sesuatu
yang akan kita kerjakan atau kita ikuti. Begitu pula dengan masalah beladiri
yang akan kita ikuti harus kita teliti terlebih dahulu.
Dengan penelitian ini
diharapkan kita sebagai umat Islam tidak terjebak dengan permasalahan dan
perbuatan kita yang merusak aqidah kita, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Semoga kita semua yang berminat mengkaji beladiri berada di Jalan
Allah I.
Suatu aliran beladiri bisa dikatakan Islami jika
sudah memenuhi kriteria berikut :
A. Niat untuk Belajar Beladiri
Niat merupakan sesuatu
yang menentukan pekerjaan kita apakah dapat dinilai sebagai ibadah ataupun
tidak oleh Allah I. Begitupun mempelajari
beladiri segalanya tergantung oleh niat kita apakah hanya mencari sehat, atau
tujuan lainnya, sebagaimana hadits berikut :
"Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya”
(H.R. Bukhori)
“Dan barang siapa menghendaki pahala dunia niscaya kami berikan
kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat kami
berikan pahala akhirat itu”
(Ali Imran 145).
Hendaklah tujuan dalam
mempelajari beladiri hanyalah untuk membela hak kita sebagai seorang muslim
yang menjadi khalifah di muka bumi ini.
B. Bebas dari Segi Aqidah
Yang dimaksud bebas dari
segi Aqidah adalah :
1. Tidak ada tata cara penghormatan yang
menyalahi aqidah.
2. Tidak ada lambang-lambang yang menyalahi
aqidah.
3. Tidak ada bid’ah dalam pelatihan yang
menyebabkan rusaknya aqidah.
4. Tidak ada hal-hal yang bersifat ‘Tasyabbuh’.
5. Tidak ada hal-hal yang bersifat ‘Ashobiyah’.
6. Dan lain-lain yang
perlu diteliti dan dikaji lagi.
Untuk lebih jelasnya, agar kita terbebas dari
segala bentuk yang bisa merusak aqidah kita, kita gunakan metode penyeleksian
sebagai
berikut :
1. Janji yang diucapkan dalam beladiri
Janji ini memegang
peranan penting dalam mempelajari beladiri, karena janji inilah yang akan
menjiwai setiap gerak-gerik murid yang mempelajarinya. Sebagai seorang muslim
sudah tentu yang kita inginkan adalah janji yang sesuai dengan perintah Allah I.
2. Perhatikan dan teliti lambang yang digunakan
Lambang beladiri
tersebut apakah menyalahi aqidah Islamiyah kita atau tidak.
Contoh :
- Segi tiga sama kaki, baik terbalik ataupun
tidak ini melambangkan kaum zionis Yahudi.
- Swastika ini melambangkan aqidah Hindu/Budha
- Bintang Segi Enam yang terdiri dari dua buah
segitiga sama kaki, ini melambangkan Bintang Yahudi (aqidah Yahudi).
- dan lain-lain.
3. Perhatikan cara penghormatannya (sikap tangan
dalam penghormatan)
Sikap tangan banyak yang tanpa kita sadari
melambangkan suatu aqidah agama lain.
Berikut akan kita lihat
arti sikap tangan (Mudra) dalam kitab Weda
Parikrama susunan G. Pudja terbitan tahun 1972 di halaman 57 berbunyi
sebagai berikut :
“Tiap arah dengan nama mudra tersendiri dan tiap
mudra melambangkan aspek dewata dengan arti tujuan tertentu”.
Jadi kalau kita melakukan penghormatan dengan
sikap tangan yang melambangkan suatu dewa tertentu, berarti kita telah
menserikatkan Allah I secara tidak langsung. Semoga Allah I memaafkan kebodohan
kita tersebut.
4. Teknik pernafasan yang digunakan
Memahami teknik pernafasan sama pentingnya
dengan memahami sikap tangan. Banyak teknik pernafasan yang menggunakan metode
pernafasan agama lain yang bagi mereka merupakan salah satu cabang ibadah.
(contoh : pernafasan Yoga)
5. Cara untuk meningkatkan kemampuan diri
Hal ini sangat penting kita pahami, karena jika
kita meningkatkan kemampuan diri kita dengan bantuan bacaan-bacaan tertentu
ataupun upacara-upacara tertentu yang mempunyai syarat tertentu pula, maka kita
akan terjerumus dalam kemusyrikan.
Latihan fisik harus benar-benar mengerahkan
kemampuan fisik kita, jangan kita campuri dengan sesuatu yang tidak ada
hubungannya dengan latihan fisik kita.
6. Cara melakukan jurus / gerakan dalam beladiri
Hal ini sangat penting untuk membedakan jenis
beladiri tersebut dan menyesuaikannya dengan struktur tubuh kita. Terutama
untuk membedakan mana gerakan yang cocok untuk laki-laki dan mana yang cocok
untuk perempuan.
Jika cara berjurus untuk laki-laki disamakan
dengan perempuan, maka kita akan termasuk dalam hadits berikut ini :
“Rasulullah e melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang
menyerupai laki-laki”. (HR. Bukhori)
Rasulullah e melaknat laki-laki yang berpakaian serupa pakaian
perempuan dan perempuan yang berpakaian serupa pakaian laki-laki.
(HR. Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hiban dan Hakim)
Dari hadits di atas jelas Allah I dan Rasul-Nya
melarang perempuan menyerupai laki-laki atau bertingkah sebagai laki-laki
begitu juga sebaliknya.
Hasil latihan beladiri dapat mempengaruhi fisik
dan mental seseorang, jika perempuan mempelajari beladiri dengan gerakan yang
disamakan untuk laki-laki (misal : gerakannya keras) maka perempuan tersebut
akan terbawa alam laki-laki, tubuhnya akan menjadi keras berotot bagaikan
penarik gerobak, sehingga hal ini merusak fitrahnya sebagai seorang perempuan,
dan ini dilarang oleh Allah I dan Rasul-Nya sesuai dengan hadits di atas.
Beladiri merupakan
pakaian bagi orang yang mempelajarinya, untuk itulah hati-hatilah dalam memilih
jenis beladiri yang akan diikuti.
Dari cara berpakaian
untuk berlatih pun laki-laki dan perempuan tidak boleh sama, perempuan harus
menggunakan pakaian yang tertutup auratnya namun tidak mempengaruhi gerakannya.
Perempuan dan laki-laki tidak dapat berlatih dalam satu tempat yang sama,
karena hal ini akan mengaburkan niat kita dalam berlatih beladiri.
C. Bebas dari Segi Kesehatan
Yang dimaksud bebas dari
segi kesehatan adalah : latihan beladiri yang tidak merusak kesehatan dalam
jangka panjang ataupun jangka pendek, hingga pada akhirnya terjebak ke dalam
suatu ‘Kedzoliman’ yang sudah pasti bertentangan dengan tuntunan Aqidah
Islamiyah.
Contoh :
1. Cara menendang yang
salah yaitu mengunci sendi lutut sehingga dua tulang di bawah tempurung lutut
beradu, pada akhirnya mengakibatkan lecet.
2. Cara memukul yang
salah yaitu mengunci sendi sikut dapat mengakibatkan terjadinya lecet pada
tulang hasta akibat berbenturan tulang.
3. Memukul-mukul benda
keras dapat mengakibatkan terjadinya penumpukan asam urat yang pada akhirnya
dapat menjadi trauma sendi.
4. Memukul-mukul leher
yang mengakibatkan pusat sistem saraf yang berada di batang otak terganggu.
5. Melakukan
gerakan-gerakan yang membahayakan tulang punggung seperti ‘Kayang’ yang
dapat membuat terjadinya lecet pada tulang punggung.
6. Melakukan pemanasan
yang tidak ‘tertib’ seperti menahan nafas dengan keras pada awal pelatihan, ini
mengakibatkan sistem peredaran darah terganggu akibat sendi, otot, jantung
belum dipanaskan terlebih dahulu.
7. Dan lain-lain yang perlu diteliti dari segi kesehatan agar tidak
terjebak pada hal-hal yang mendzolimi diri kita sendiri.
BAB 2
DAHT DAN NAHT
Pada dasarnya manusia cenderung ingin memiliki kekuatan
di luar jangkauan kemampuan manusia itu sendiri. Ada manusia yang berbangga hati jika mampu
mempertontonkan keistimewaannya kepada orang lain dan ada pula yang berdalih
untuk mempermudah keinginannya.
Contoh nyata manusia yang berbangga hati untuk
mempertontonkan kemampuannya seperti kebal, dapat memutuskan rantai besi yang
tebal, mandi dalam api, menggoreng dengan tangan dan sebagainya. Manusia yang
berdalih untuk mempermudah hidupnya seperti dapat mendatangi tempat yang jauh
dalam sekejap, dapat mengetahui peristiwa
yang akan datang, dapat menghilang, dapat mendatangkan buah-buahan dari
negeri yang jauh, dan sebagainya.
Kita sebagai umat Islam hendaknya tidak membabi buta
untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Tetapi hendaklah kita teliti
dahulu asal-muasal suatu perkara, kita gunakan mata kita, kita gunakan telinga
kita, kita gunakan akal dan kemudian kita putuskan dengan hati apakah masalah
yang kita dapatkan tadi sesuai dengan ajaran agama kita (Islam) ataukah
bertentangan dengan ajaran agama Islam. Jika telah kita gunakan metode yang di
atas tadi, Insya Allah kita akan mendapatkan sesuatu yang diridhoi oleh
Allah I.
Penulis akan menerangkan masalah-masalah yang berkaitan
dengan penggunaan tenaga luar (Jin) untuk kepentingan manusia dalam beladiri,
pengobatan dan lain-lain, kemudian kita lihat dari segi agama apakah hal
tersebut dibenarkan ataukah tidak, kemudian juga akan kita lihat cara-cara yang
tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad e dan para shahabat beliau untuk
mendapatkan karomah, maunah dengan jalan dzikir nafas dan
lain-lain.
Semoga kita umat Islam terutama tamid Thifan Po Khan
tidak terperangkap oleh hal-hal yang menggunakan bantuan luar dan melakukan
hal-hal yang tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad e dalam segi peribadatan
untuk mendatangkan sesuatu yang menakjubkan. Semoga kita semua dalam lindungan
Allah I. Aamiin.
A. Jin
1. Istilah dan asal Jin
Arti Jin menurut bahasa adalah makhluk yang
tersembunyi, sedangkan menurut pengertian agama adalah makhluk yang dijadikan
Allah I dari api. Hal ini dapat kita lihat dalam firman Allah I sebagai berikut
:
“Dan Kami telah menciptakan
jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.”
(Q.S. Al-Hijr 27)
“dan Dia menciptakan jin dari
nyala api”
(Q.S. Ar-Rahman 15)
Jin diciptakan Allah I untuk beribadah
kepadanya, hal ini dapat kita lihat dalam firman Allah I sebagai berikut :
“Dan Aku tidak menciptakan
jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”
(Q.S. Adz-Dzaariyaat : 56)
2. Jin terbagi dua golongan
Setelah turunnya Al-Qur’an, bangsa Jin pun harus
mengikuti petunjuk Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah tuntunan ibadah bagi
makhluk Jin dan Manusia sesuai dengan surat
Adz-Dzaariyaat ayat 56. Penjelasan tentang Islamnya Jin dapat kita lihat dalam
firman Allah I sebagai berikut :
“Dan
(ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al
Qur'an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata:
"Diamlah kamu (untuk mendengar-kannya)". Ketika pembacaan telah
selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.
Mereka
berkata : "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al
Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang
sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.
Hai kaum
kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah
kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu
dari azab yang pedih.
Dan
orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia
tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya
pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata".
(Q.S. Al-Ahqaaf : 29-32)
“Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadaku
bahwasannya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur'an), lalu mereka
berkata: "Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur'an yang menakjubkan.
(yang) memberi petunjuk
kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya dan kami sekali-kali tidak
akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami.
Dan
bahwasannya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak
(pula) beranak.
Dan
bahwasannya: orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan
(perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah”.
(Q.S. Al-Jin : 1-4).
Dari ayat tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa
Jin terbagi menjadi dua golongan yaitu yang Taat dan yang membangkang. Golongan
yang membangkang bersekutu dengan golongan Jin yang dilaknat oleh Allah I yang
disebut Syaitan.
3. Jin hidup dan mati
Seperti halnya manusia, Jin pun perlu makan dan
minum, dengan kata lain Jin pun perlu mencari rezeki untuk kebutuhan hidupnya,
kita lihat dalil yang mendukung pendapat ini.
“Dan bahwasannya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan
itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang
segar (rezeki yang banyak)”.
(Q.S. Al-Jin : 16)
Hal ini didukung oleh hadits Rasulullah e yang
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah e pernah kedatangan
segolongan Jin, maka Rasulullah e mendo’akan mereka jika mereka menemukan
tulang dan kulit, mereka dapatkan rezeki makanan di sana.
Karena Jin makan dan minum, maka tentulah Jin
mempunyai jasad, hanya saja jasadnya tidak sama dengan manusia, Jin dapat masuk
ke tempat yang kecil, ia dapat menembus pagar batu melalui lobang-lobang kecil
pada batu itu, Jin pandai menjelma dan pandai terbang.
Jin pun mati seperti halnya manusia, ini
disebabkan karena ia makan dan minum, kecuali golongan yang dikutuk oleh Allah
I.
Jin mempunyai tempat tinggal, Jin-Jin Islam
kebanyakan menempati tempat yang tinggi dan bersih, sedangkan Jin kafir biasa
menempati lembah-lembah. Kebiasaan Jin itu keluar pada malam hari, pada
saat-saat yang sunyi, pada tempat-tempat yang rimbun dan gelap.
4. Jin bukan di alam ghaib dan tidak mengetahui
masalah ghaib
Antara alam manusia dan alam jin terhalang oleh
hijab, maka jika jin menerobos hijab itu lalu memasuki alam manusia, maka jin
akan berubah wujud sesuai dengan keinginannya, karena jin diberi kemampuan oleh
Allah I untuk mengubah wujud menurut yang diinginkannya (secara logis unsur
pembentuknya nyala api).
Jin tidak mengetahui masalah yang ghaib karena
mereka bukan di alam ghaib, lihat firman Allah I sebagai berikut :
“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada
yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan
tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau
sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa
yang menghinakan”
(Q.S. Saba : 14)
“Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan
itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan
mereka menghendaki kebaikan bagi mereka”.
(Q.S. Al-Jin : 10)
5. Apakah Jin berakal / berilmu pengetahuan
Jawaban dari pertanyaan di atas adalah “ya”, ini
dapat kita lihat dalam surat
Adz-Dzaariyat : 56, dalam ayat ini Allah I perintah kepada jin dan manusia
untuk beribadah kepada-Nya. Konsekuensi logis dari ayat tersebut yaitu jin
diberi kemampuan untuk mengerti aturan main Allah I, dengan kata lain jin
diberi akal oleh Allah I.
Ayat lain yang mendukung pada surat
Al-Jin ayat 1-4 tersebut di atas, ketika jin mendengar ayat Al-Qur’an dan
kemudian jin tersebut membuat suatu kesimpulan dari apa yang didengarkannya, dan lebih menyakinkan lagi bila
kita lihat pada surat
Ar-Rahman ayat 33 yang berbunyi :
“Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi)
penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya
melainkan dengan kekuatan”.
(Q.S.
Ar-Rahman : 33)
Dari keterangan di atas jelas dapat disimpulkan
bahwa jin merupakan makhluk yang diberi akal oleh Allah I.
6. Jin yang taat digoda oleh Syaitan
Seperti yang telah diterangkan di atas, jin
terbagi menjadi dua golongan yang taat (Islam) dan golongan yang tidak taat
(membangkang). Golongan yang taat akan mendapat godaan dari syaitan agar
menyimpang dari kebenaran. Hal ini logis sekali karena golongan yang taat
mengikuti aturan main dari Allah I, sedangkan syaitan tidak menghendakinya.
Untuk mendukung pendapat ini kita lihat surat
Al-An’aam sebagai berikut :
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu
syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka
membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah
untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak
mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”.
(Q.S. Al-An’aam : 112)
Dalam tafsir Ibnu Katsir diterangkan bahwa
Assuddi meriwayatkan dari Ikrimah, berkata : Syaitan manusia menyesatkan dan
mempengaruhi manusia, sedang jin menyesatkan dan mempengaruhi jin, kemudian
jika bertemu keduanya lalu memberi tahu, aku telah menyesatkan golonganku
dengan cara ini, maka cobalah untuk mempengaruhi golonganmu. Ibnu Abbas juga
meriwayatkan serupa dengan keterangan itu.
Seperti halnya manusia, jin yang tidak taat
kadang kala dengan bantuan syaitan (yang tidak tampak) mempengaruhi jin dan
manusia yang taat untuk menyimpang dari aturan main Allah I.
7. Golongan Jin yang dikutuk (Syaitan)
Dalam surat
Al-Hijr ayat 27 dikatakan bahwa jin diciptakan oleh Allah I lebih dahulu
daripada manusia, ini memungkinkan jin berkembang biak. Dalam tafsir Ibnu
Katsir dikatakan jin yang pertama sekali diciptakan bernama Marij dan ia
berjodoh, salah satu keturunan Marij bernama Hariq yang dikatakan telah beribadah
selama dua ratus tahun lamanya. Tetapi karena Hariq tidak mau taat pada
perintah Allah I pada saat dijadikan Adam, maka Allah I berikan gelar Iblis.
Ini dapat kita lihat dalam surat
Al-Kahfi sebagai berikut :
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada
para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka
kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah
Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin
selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu
sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim”
(Q.S. Al-Kahfi : 50)
Setiap turunan dari Hariq dinamakan syaitan.
Gelar ini diberikan ketika dia mulai menggoda manusia dan jin yang taat, kita
harus berhati-hati karena mereka berjanji akan menyesatkan kita, karena bapak
kita Adam yang menurut Syaitan menyebabkan bapak mereka Iblis (Hariq) keluar
dari sorga dan menjadi makhluk yang dikutuk. Lihat firman Allah I sebagai
berikut :
“Iblis menjawab: ‘Demi kekuasaan Engkau aku akan
menyesatkan mereka semuanya’”
(Q.S. Shaad : 82)
“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka
dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak
akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)”
(Q.S. Al-A’raaf : 17)
Karena ikrar dari syaitan tersebut di atas, kita
sebagai manusia beriman hendaklah berhati-hati jangan sampai kita tanpa kita
sadari disesatkan oleh mereka. Karena mereka melihat kelemahan-kelemahan kita
dari suatu tempat yang tidak kita lihat, sebelum ia masuk ke dimensi kita.
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat
ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari
surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada
keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari
suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah
menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak
beriman”
(Q.S. Al-A’raaf : 27)
“Tiada seorang pun dari kamu, pasti didampingi
oleh seorang dari bangsa jin dan didampingi oleh seorang dari bangsa malaikat, serempak salah seorang shahabat bertanya :
Apakah tuan juga demikian ya Rasulullah ? Rasulullah menjawab : Ya, hanya Allah
anugerahkan pertolongan padaku untuk menundukkannya sehingga menyerahlah ia dan
tiada mengajak kepadaku kecuali perkara yang baik”
(HR. Muslim)
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap
nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis)
jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan
yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya
mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka
ada-adakan”.
(Q.S. Al-An’aam : 112)
Jika ada seseorang yang mengatakan ia dapat
memanggil dan berkomunikasi dengan arwah orang yang telah meninggal, ketahuilah
bahwa orang tersebut berdusta dan yang datang bukan arwah, melainkan syaitan
bangsa jin yang telah menemani orang yang dipanggil tersebut ketika hidupnya,
secara logis jelas ia mengetahui sesuatu yang berkaitan dengan orang tersebut,
mulai dari suara, hobi, makanan dan sebagainya. Dengan percayanya kita bahwa
kita dapat berkomunikasi dan dapat nasehat dari jin yang kita kira arwah yang
dipanggil musyriklah kita.
Dalam kasus tersebut di atas syaitan yang
mendampingi tidak mati karena telah diberi keringanan umur yang panjang sampai
hari kiamat.
B. Bentuk Bantuan Jin
Sebagai seorang muslim
kita hendaknya dapat berhati-hati dalam suatu perkara, jangan sampai suatu perkara itu dapat menjerumuskan kita dalam
kemusyrikan yang tidak kita ketahui. Firman Allah I mengingatkan kita
supaya tidak terjerumus oleh kemusyrikan yang disebabkan oleh godaan syaitan
dari golongan jin.
“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di
antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin,
maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”
(Q.S. Al-Jin : 6)
Permintaan manusia pada
jin itu kebanyakan dalam perkara ghaib seperti ilmu kedigjayaan, ilmu sihir
dalam pertunjukkan, ilmu sihir tenung, ilmu wafaq, ilmu pelet, ilmu pengobatan
dan sejenisnya. Dalam ilmu yang disebutkan di atas jelas manusia mengundang
jin, tetapi kadang kala syaitan jin itu tiada diundang dia akan datang sendiri.
Kita lihat contoh di
bawah ini ketika jin berusaha menyesatkan manusia tanpa diminta, contoh ini
diambil dalam kitab tentang jin atau Al-Jin, sebagai berikut :
1. Jin datang tanpa diundang
Kisah pertama, seorang perempuan namanya Sarah
Jamel, ia seorang anak yang ditinggal mati oleh ibunya dan ayahnya kawin lagi
dengan wanita yang jahat. Ibu tirinya sering menyiksanya sehingga Sarah Jamel
melarikan diri ke padang
rumput dekat sebuah gua yang besar. Maka tatkala ia sampai di mulut gua itu,
dia melihat ada seorang yang menyerupai ibunya, lalu berkata : ‘Hai Sarah
masuklah’, lalu jin yang menyerupai ibunya memberikan sebuah batu putih,
kemudian jin itupun lenyaplah, dan Sarah kemudian ditemukan oleh kabilah
pembawa sutera dan diajaklah Sarah ke negeri utara yang jauh. Kemudian tersebarlah
berita bahwa Sarah dapat mengobati segala penyakit dengan meletakkan batu
putihnya pada bagian tubuh yang sakit. Sehingga musyriklah sebagian umat karena
mereka menganggap ada kekuatan ghaib pada batu itu dan dipujalah batu itu.
Kisah kedua, Seorang laki-laki yang pernah
terkena kusta hidup menyendiri pada sebuah tempat yang subur di tengah sahara.
Pada suatu malam datanglah seorang tua yang berbulu lebat dan memberinya daging
ular dan lambat laun ia sembuh dari penyakitnya itu, lalu laki-laki miskin
tersebut disuruhnya membaca bacaan tertentu yang isinya memuji kekuatan pedang
Zulfiqar setiap hari, lalu sepekan kemudian orang tua yang berbulu lebat datang
kembali sambil membawa sebuah batu aqik berkilauan, sambil berkata : Usapkanlah
dan bacalah dalam hati : ‘Tiada kekuatan kecuali pada Ali dan sebaik-baik
kekuatan hikmah adalah pedang Zulfiqar sebanyak tiga kali. Maka ia menuruti
nasehat orang tua tadi. Kemudian ia cobakan kepada orang yang berpenyakit kusta
dan diberinya daging ular lalu sembuhlah. Lalu ia mendatangi pula seorang
perempuan yang hampir terkena penyakit kusta, kemudian diobatinya dengan
menggunakan batu tersebut sehingga ditakdirkan sembuh. Akhirnya ia menjadi
kaya, tetapi banyaklah orang yang tersesat karena menganggap ada kekuatan ghaib
pada batu tersebut.
Jin dapat menyesatkan manusia dengan mengubah
bentuknya sesuai dengan kepercayaan suatu daerah terhadap tahayul, seperti
harimau jadi-jadian, babi ngepet, penunggang kuda tak berkepala, dan
sebagainya.
2. Jin datang dengan diundang
Seorang datang berobat kepada seorang dukun,
kemudian dukun seolah-olah kemasukkan roh dan dituturkannya
cara-cara untuk mengobati penyakitnya. Maka si pesakit pun
mempercayainya dan musyriklah ia karena yang ia percayai adalah jin yang
menjelma menjadi roh seseorang.
Seorang datang untuk melihat nasibnya di masa
depan kepada seorang dukun. Kemudian dukun pun meramal nasibnya dengan bantuan
bisikan-bisikan jin, maka ia percaya pada dukun, musyriklah ia.
Ada dukun yang membuat azimat-azimat penangkal
bahaya, ada yang mempercayai ramalan burung, ada dengan memukul-mukul pasir
(Ath-Tharqu), ada dengan nujum melihat bintang-bintang, maka peredaran bintang
dihubungkan dengan nasib seseorang dan lain-lain.
C. Sihir
1. Bentuk dan cara sihir
Sihir banyak sekali macam dan bentuknya, di
antaranya adalah : Tenung, Nujum, Sihir Pekasih, Sihir Penangkal, Sihir Pelaut,
Sihir untuk menceraikan dua pasangan, Sihir kebal, Debus, Sihir pengobatan,
Sihir tawar bisa semacam bisa ular, Sihir harimau di China dan Hindustan, dan lain-lain
yang kurang terkenal.
Sihir itu dusta, seumpama ada benda mati yang
disuruh seorang penyihir untuk bergerak, lalu benda itupun bergerak. Maka
sesungguhnya ada jin yang menggerakkan benda tersebut, karena seorang tukang
sihir ada ikatan dengan syaitan dalam perjanjian yang kuat dan syaitan pun ada
permintaan yang berat terhadap tukang sihir sebagai imbalannya.
Bahwasannya sihir itu berupa tipu daya syaitan
dan tiada mungkin dapat diperoleh seseorang melainkan harus ditebus dengan
segala kemusyrikan dan kekafiran. Kemusyrikan yang terang dan kemusyrikan yang
tersembunyi sering dilakukan oleh ahli-ahli debus dari kalangan Syi’ah, mereka
meneriakkan ucapan-ucapan : “Ya Ali, ya Hassan, Ya Husain, Hadlir” dan
sebagainya. Maka seorang membaca mantera dengan khusuk bersembunyi di balik
tirai putih, maka penari debus itupun jadilah dan ia tusuk menusuk dengan paku
debusnya, mengerat lidah, membakar diri, memenggal kepala dan sejenisnya, maka
semuanya itu hanya tipuan syaitan yang terjadi bukan karomah yang mereka
peroleh.
Seorang ahli sihir membawa seorang anak
perempuan, kemudian ia menjajakan dagangannya itu, untuk memikat hati ia
pertunjukkan sihirnya itu dengan menyembelih anak perempuan tersebut di ujung pasar, dibaringkannya anak perempuan
tersebut, lalu semua pakaiannya dilepaskan, kemudian anak tersebut
disembelih sehingga darah pun memancar, dan ia baringkan anak perempuan
tersebut sampai darah menjadi membeku. Orang yang bertenaga daht yang tinggi
dapat melihat bahwa yang disembelih bukanlah anak perempuan tersebut melainkan
seekor kambing.
Seorang fakir di Kambay memperlihatkan
kesaktiannya dengan menelan bukit, sebilah parang, empat buah bejana tembaga,
sebuah kereta kuda, orang-orang pun bersorak kagum atas kehebatannya. Tetapi
orang yang bertenaga Daht yang tinggi akan melihat bahwa si fakir sedang
tertelungkup dan dagunya bersandarkan batu. Karena orang yang bertenaga daht
yang tinggi serta keimanan yang kuat tidak tertipu oleh sihir.
Sihir Kathay ada pula terkenal dengan sihir tali
tegak seumpama tiang lalu dipanjati oleh seorang anak sampai hilang di udara
lalu penyihir melemparkan pedang tajam lalu berjatuhlah bagian-bagian tubuh
anak itu dari angkasa. Semuanya itu bagi orang yang bertenaga daht tinggi
adalah dusta.
Seorang dukun terkadang melakukan Sihir
pengobatan, pada saat itu juga si pesakit dapat disembuhkan, tetapi ketika
telah sampai di rumah sakitnya akan kembali lagi. Apa artinya pengobatan
seperti itu.
Sihir pada masa dahulu terkenal seperti sihir
tali, kuda, singa, sehingga seseorang dapat berprilaku seperti singa, sihir
terbang dan sebagainya. Sihir ini berasal dari Mesir dan berkembang pada
golongan bangsa Yunani dan Rum.
2. Sihir terselubung dari ahli bid’ah
Firman Allah I :
“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan
yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu
mengetahui”
(Q.S. Al Baqarah : 42)
“Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang
bathil telah lenyap’. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti
lenyap”
(Q.S. Al Israa’ : 81)
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka
terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”
(Q.S. Al Hasyr : 7)
Sabda Rasulullah e :
“Segala bid’ah (tambahan-tambahan yang dibuat)
itu sesat, dan semua yang sesat itu di neraka”
(H.R. Muslim)
Ahli sihir ada dari golongan Sufi tetapi dengan
corak lain dan berbau Islam, mereka mempergunakan tenaga luar itu dengan
membawa ayat-ayat Al-Qur’an, diserunya syaikh-syaikh yang sudah terkubur,
dibuatnya pekasih, penangkal, kekebalan dan sejenisnya.
Ahli sihir dari golongan sufi hanya mengganti
bacaan dari fakir Hindu dengan bacaan yang berbau Islami yang tidak dicontohkan
oleh Rasulullah e tentang penggunaannya, maka sabda Rasulullah e :
“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia
termasuk kaum yang ia tiru.
(H.R. Abu Daud)
Contoh sihir yang dilakukan oleh ahli Sufi,
seorang alim di anak benua Hindi bersantri banyak setelah selesai ilmu Islam
dikaji beralihlah pada kajian dzikir nafas, karena penyatuan gerakan nafas dan
olah serabut otot terdalam tidak seimbang maka timbullah daya tarik menarik dan
dibumbuhilah gerakannya dengan bacaan Asma’ul Husna berselang Shalawat
Nabi, menurut mereka keanehan yang terjadi itu karomah beralih yang
dialap dari seorang syaikh semacam syaikh Gazni, Malawi, Benggali dan
sebagainya.
Dengan latihan dzikir nafas menurut mereka dapat
mengobati orang yang sakit, mengusir kerasukan jin, menangkap jin dan
sebagainya. Tertipulah mereka dikira karomah yang datang tetapi syaitan
dari bangsa jin yang datang.
Seorang alim di Malwa pernah mendatangkan anggur
dari Makkah karena istrinya mengidam, hanya berpejam mata anggur tersebut telah
datang. Kalau kita lihat dari sifat jin mudah baginya untuk menyihir sesuatu
bentuk untuk menjadi anggur, tertipulah si Alim dianggapnya karomah yang
datang tetapi syaitanlah yang menipunya.
Seorang alim di Malwa pernah bersafar, dan di
dalam bersafarnya itu ia melihat seorang anak jatuh dari tebing, kemudian ia
arahkan tongkatnya dengan membaca Hijib Zekif, maka anak gembala itu
jatuh seumpama daun kering. Bukan karomah yang diperoleh si alim tetapi
bantuan syaitan yang diperoleh, karena mana mungkin karomah dapat
diperoleh dari ahli bid’ah.
D. Dzikir Nafas
Jika banyak bergerak dan
mengatur pernafasan manusia akan menjadi sehat dan lambat menjadi tua, tetapi
harus pula mengenal batas-batas, karena jika over akan berbahaya juga.
Orang-orang Yunani yang semula mengkaji gerak pernafasan Mesir, telah menggali
cara pernafasan bahu, yakni bahu itu ditarik ke atas berkali-kali, lalu
mengembang kempiskan perut sambil perut berputar goyang seumpama penari istana
Fir’aun itu, lalu tegak, lalu runduk bungkuk rukuk, lalu rentang dada
berkali-kali, maka beberapa penyakit dapat terhindar seumpama penyakit sesak
dan penyakit perut.
Digerakkannya seluruh
tubuh dengan gerakan seumpama tarian dan nafas pun diaturlah, kepala bergoyang
dan tangan kaki membentuk rangkaian gerak cerita, maka cara ini berasal dari
bangsa yang tertua yang menduduki lembah Furat dan Dajlah, lalu tersebar ke
Mesir, Hindi Purba, Persia, Babil lalu sebagian cara ini masuk ke Yunani dan
Rum.
Olah pernafasan di Mesir
dan Arab Purba itu hanya terbatas pada kaum bangsawan, lalu di Yunani dan Hindi
tersebar oleh kaum pendeta, di Persia pun terbatas adanya sehingga banyak orang
yang tidak mengetahuinya, karena pada masa itu orang pandai kikir akan ilmu.
Tempat berlatih olah
tubuh pun khusus, berupa bulatan yang luas, orang mesir menyebutnya pernafasan
kuda, orang Yunani berolah tubuh sesuai dengan agamanya seperti pesta sukan
empat tahun, yakni sekali empat tahun untuk menghormati berhala mereka Zeus di
gunung Olimpus.
Orang Hindu dan China
kenal akan Yoga, Yoga semula berasal dari cara ibadat kepada berhala dengan
duduk, berbaring, melipat tubuh dan sejenisnya, nafas teratur, lalu mata
terpusat akan sebuah benda, maka ada yang diam dan ada yang membaca sesuatu.
Yoga terkenal pada agama asli orang Hindu dan Budha. Orang China mengenal cara ini bermula
dari Hindu Utara.
Yoga Patanjal lahir dari
aliran Yoga lama, didirikan Patanjal lebih kurang 400 M, Yoga berhati hubungan.
Yoga adalah jalan untuk menghubungkan diri pada yang ada dengan hakekat nafas
untuk memasuki Moksa, melatih diri jasmani dan rohani dengan mengurangi makan,
minum dan tidur, itulah tapas namanya. Batasilah segala kesenangan, kelezatan
dan biasakanlah menyiksa diri, berdiri berjam-jam tengah hari dekat api unggun,
tidur telanjang bulat pada malam hari di musim dingin, segala harus dilawan
dengan mengolah pernafasan, maka jika semuanya itu telah tercapai terbukalah
segala yang tidak mungkin tercapai. Pada latihan kedua melalui tiga tingkatan
Brata :
1. Dharana, pemusatan pikiran dan perasaan pada
Yantra, sehingga seolah-olah tiada benda kecuali Yantra itu.
2. Dhyana keadaan jiwa yang tiada putus, bertaut
dengan Yantra sehingga bersatulah sudah.
3. Samadhi, jiwanya lebur bersatu dalam Yantra,
maka teratasilah segala sifat kemanusiaan itu.
Yantra adalah benda
pemusatan yang merupakan akan jalan pemusatan diri pada Brahman, jika
tercapailah Atman dan Brahman, maka akan terbuka delapan tirai kesaktian :
1. Pandai menghilang
2. Meringankan tubuh sehingga ia bisa tidur
nyenyak di atas paku
3. Agung
4. Dapat melakukan apapun yang ia kehendaki
5. Menyingkap kegaiban
6. Selalu mengepalai makhluk
7. Mengetahui segala rahasia
8. Mendekatkan jarak yang jauh
Sifat Brahman menurut
Yoga Patanjal : Azali, Esa, Tak berkehendak pada makhluk, tak bertempat,
Berfirman, Serba tahu, Maha suci, tetapi Atman itu tetap pecahan Mahatman,
Tuhan sendiri.
Kepercayaan ini masuk ke
dalam dongeng Sufi, dalam manakibnya yang aneh-aneh, seorang sufi konon setelah
mencapai tingkat membuka tirai tujuh dengan dzikir nafasnya ia dapat berjum’at
ke Mekkah dari Delhi
dalam sekejap mata dan sebagainya.
Kaum Sufi mencampurkan
kebiasaan olah nafas itu dalam pengucapan dzikir, ada dengan duduk lalu memutar
kepala sambil mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’ berkali-kali, mereka
mengambil ajaran Yoga dari asli Hindu dan Budha lalu dikawinkan dengan cara
Nasrani Nasturiyah lalu diberinya baju Islam. Islam menolak ajaran seperti itu
karena termasuk menambah syara, Bid’ah namanya. Jika hendak mengkaji pernafasan
hendaklah di luar peribadatan Budha dan agama lainnya.
E. Saraf dan Daht
Menurut kitab At Tib
Awaasin Al Kay oleh Ahmad Ibn Ruman diterangkan bahwa saraf dibagi menjadi tiga
macam :
1. Saraf syirun pembawa perangsang dari luar.
2. Saraf fadl yaitu pembawa perintah dari pusat
saraf ke urat-urat daging.
3. Saraf pembawa daht.
Di dalam saraf pembawa
daht tersimpan berjuta-juta butir daht yang berputar-putar dan mempunyai daya
tarik menarik.
Hal di atas sesuai
menurut percobaan modern saat ini yang dilakukan oleh Hodgkin-Huxley bahwa
antara dalam dan luar Axon terdapat perbedaan potensial diam, yang dapat
dipengaruhi oleh cahaya, panas, dan listrik dan juga dapat dipengaruhi oleh
ion-ion tertentu (misal ion Na+).
Dengan adanya medan listrik ini seperti kita ketahui bahwa ada sifat
dualisme antara medan listrik dan medan magnet. Jadi dengan
kata lain akibat potensial diam tadi dapat menimbulkan medan magnet. Medan magnet ini terpancar ke luar permukaan
tubuh kita yang dikenal orang sebagai aura, aura ini dapat dipotret dengan
mempergunakan foto kirlian.
Dari alasan singkat di
atas dapat disimpulkan bahwa memang manusia dan binatang (terutama binatang
buas) mempunyai daht yang tersimpan, hanya saja ada yang mau menggunakan dan
tidak, dan juga tidak bertentangan dengan sunnatullah.
F. Daht Buaian (Naht)
Daht buaian terjadi
karena gerakan salah atau tidak tertib berurutan, walaupun timbul tetapi kurang
berfaedah, sifatnya berdaya tarik menarik sejenis, seperti tampak pada
gerakan-gerakan seni silat Kaifeng di China, di antaranya tujuh belas gerakan
dimulai dengan tinju tahan bersama lemah, tahan nafas dengan kedua belah
kuda-kuda tertentu, dalam seni silat Kaifeng tidak ada penyerangan dan
penghindaran, tangkisan atau berganti langkah, langkahnya hanya bergesek searah
(berselusur).
Daht buaian biasa
ditampilkan dalam permainan, seperti pengisian dinding yang bermuka lebar
seumpama lantai, muka dinding, udara dan langit-langit. Daht buaian diletakkan
dengan jalan pandangan mata tajam terpusat sehingga daht tersalur pada kedua
bola mata terpancar masuk, lalu melekat pada benda yang ditatapnya itu, atau
mengisi dengan gerakan tangan sehingga keluar dari jari-jarinya daht tersebut,
atau dengan suara, tiupan, curahan air dan versi-versi lainnya.
Daht buaian diragukan
untuk dijadikan alat pembelaan diri karena gerakan itu lemah dan tidak beracun,
orang yang terlempar tidak merasakan sakit, hanya berlaku bagi kawan atau lawan
yang mengkaji permainan sejenis atau tengah marah.
Di Hindustan dan China
terdapat beberapa macam permainan daht buaian seperti Tarayana dan Dahtayana.
Diisinya lantai dan dinding batu dengan alur-alur daht buaian oleh sang guru
sambil menari, maka sang penari segera memasukinya dengan tarian tahan nafas,
lalu penari tersebut terlemparlah tetapi tiada merasakan sakit seperti daun
terhembus angin. Guru memancarkan daht buaian dengan tenaganya sambil menari
mengisi udara, kakinya pun memancarkan daht buaian mengisi lantai, apabila
penari memasukinya dengan tarian nafas, maka timbullah pertentangan/pelekatan
daht buaian yang tidak sejenis, akibatnya si penari pun tertarik pusaran daht
buaian sang guru. Disebabkan karena daya tolak lebih rendah dari daya tarik
itu, sehingga si penari pun roboh atau terlempar.
Beberapa aliran silat China
mempergunakan permainan pengisian permainan daht buaian itu sebagai pelepas
lelah setelah berlatih berat Shaolin. Daht buaian tiada mengenai sasarannya
jika tidak didahului oleh lawan, karena daht buaian bekerja jika bersentuhan
dengan daht buaian yang sejenis.
Permainan Teratai Putih
hanya untuk mereka sendiri, dan jika kita tidak ikut berlatih, maka tidak akan
mengena jika kita memasuki medan
daht buaian tersebut. Apa artinya permainan seperti ini, dan akan sangat
berbahaya jika kita benar-benar menghadapi pengkaji daht yang sesungguhnya. Ada kemungkinan pecah
kepala kita kalau kita hanya mengandalkan daht buaian tersebut.
Seorang guru silat
berpendapat bahwa permainan daht buaian berguna untuk kesehatan tubuh dan
pengujian akan kebangkitan daht seorang murid. Tetapi jika kita teliti
guru-guru pengkaji daht buaian tersebut rata-rata mengendap penyakit
pernafasan.
Kitab Sin Kung dari
seorang China Muslim pengkaji tarekat Sufi menceritakan kegunaan daht buaian
tersebut, seperti menolak pencuri, menyuburkan tanaman, pengasih dan
sebagainya, semuanya itu menggelengkan kepada pengkaji daht yang sesungguhnya,
karena tidak termakan oleh akal dan menyesatkan.
Di Indonesia khususnya
Jawa Barat, pada tahun 1920, Tjoa Nam Fu, China peranakan Semarang mengajarkan
silat Kaifeng pembangkit manit krach, seorang muridnya bernama Mahmud dari
Sarikat Islam, kelak Mahmud setelah mendapatkan jurus-jurus Kaifeng bergelar Nampon (dari kata Namfu). Nampon
berkembang ke seluruh pulau Jawa, ada yang masuk ke dalam aliran
kebatinan, di antaranya jurus-jurus Lontang dan Jero, ada yang berkembang pada
kalangan Sosialis dan Komunis di antaranya silat Karahan dan sebagainya.
Di kalangan pesantren
telah berkembang Jurus Istighasah dan Asrar yang serumpun dengan Nampon (dari
Budha) yang sudah diganti dengan bacaan dzikir.
Jurus pernafasan
berkembang pesat sejak tahun 1960, ada yang diberi baju Komunis, Kong Hu Cu,
Hindu Dharma dan Islam. Sekarang yang berpangkal dari ajaran jurus Kaifeng itu di antaranya :
- Asrar
- Satria Nusantara
- Al-Hikmah
- Sinlamba
- Silat Buhun
- Nampon Cikareten
- Bandon
- Prana
- Istighosah
- Tri Rasa
- dan sebagainya (kurang lebih 164 aliran)
Silat Kaifeng tidak
terlepas dari unsur agama, yaitu agama Budha, sedangkan agama Budha identik
dengan Yoga. Sekarang jika kita kaji daht buaian menurut cara Yoga, berarti
kita mengikuti satu segi ibadah dari mereka. Hal ini berarti mengikuti tata
cara ibadah suatu kaum dan kita akan digolongkan sebagai kaum yang kita ikuti
tata cara ibadatnya.
G. Daht Murni
Daht adalah tenaga
tersembunyi dalam diri manusia dan hewan, ada yang bangkit bekerja dan ada yang
seolah tidur, daht tidur pun dapat bangkit bekerja karena suatu sebab kejadian
yang tiba-tiba sehingga mematikan fikir atau karena dilatih kerja dengan
gerakan-gerakan tertentu yang teratur dan khusuk.
Daht yang bangkit itu
ada terdapat pada tubuh hewan buas pemakan daging seumpama jenis-jenis kucing,
harimau, singa, jenis-jenis musang, cerpelai dan sejenisnya, hewan buas laut
seumpama ikan hiu, dan sejenisnya, burung buas seumpama Nazar, alap-alap,
rajawali, elang dan sejenisnya.
Contoh :
1. Seumpama seekor tikus ada di pematang rumah dan tidak melihat seekor
kucing yang mengintainya, ketika kucing itu memandang tikus, maka tikus pun
jatuhlah, karena pada mata kucing terpancar daht.
2. Seekor harimau mengaum lalu pada suaranya itu terpancarlah daht dan
jika terkena akan mangsanya itu menjadi layulah.
3. Seorang pemburu bertemu ular besar sebesar pohon kurma, maka pemburu
itu menjadi bergerak ke arah mulut ular tersebut dengan tarikan daht yang kuat.
4. Seekor burung rajawali emas dari benua China melayang, lalu dilihatnya
seekor anak kijang, maka menyambarlah burung itu, ajaiblah seolah-olah anak
kijang itu tertarik oleh daya angkat ke arah cengkramannya itu karena daht
rajawali terletak pada cengkramannya.
5. Seorang Badwi penghuni daerah panas gersang di padang sahara biasanya mempunyai daht mata
yang kuat karena selalu melatih matanya melihat ufuk, maka jika matanya itu
sudah kuat dan menatap orang yang sedang marah, maka dapat dijatuhkannya orang
yang sedang marah tersebut dengan daht matanya.
1. Daht manusia yang tersimpan
Bahwasannya tenaga daht itu terbatas dan di mana
ahli ilmu tidak keluar dari adat kebiasaan, tidak keluar dari sunatullah, hanya
ada yang mau mempergunakan atau membiarkannya tersimpan.
Daht bukanlah tenaga ghaib tetapi tenaga yang
sudah ada pada setiap orang dan hewan dan dapat dikaji oleh orang serta dapat
dibuktikan keberadaannya. Daht itu tersimpan di dalam serabut saraf otot yang
terdalam di bawah saraf-saraf perasa pada kulit, karena itu wajar bila tenaga
daht dinamakan tenaga dalam. Saraf-saraf daht itu memancarkan daya tarik dan
tolak, saraf-saraf daht terletak agak mendalam pada ulught yakni terselimut
bagian tubuh lain, ada di setiap bagian tubuh lain dan berpencar pada tangan
dan mata.
Maka dalam ulught itu terdapat berjuta-juta
butir daht yang berputar dan mempunyai daya tarik menarik, bila terpancar ke
luar tubuh tidak mungkin dapat kembali lagi, bagaikan ludah yang terbuang.
Daht dalam ulught itu merupakan benda yang
berwujud karena perpaduan berbagai zat di antaranya makanan, maka daht pun
mempunyai unsur tarik dan tolak, dua jenis daht dalam ulught bila bergesek
impit akan menimbulkan daya panas yang terpancar ke luar tubuh.
Bila terjadi perubahan serabut ulught pada dada
kiri dan perubahan itu karena berlatih diri, maka timbullah daya dingin yang
bergerak tersalur pada tangan kiri, bila daya dingin ini dikaji terus akan
mudah membuat salju dalam bejana dengan penyaluran tenaga daht dingin pada air.
Apabila terjadi perubahan ulught pada dada kanan karena latihan tertentu
terpancarlah tenaga panas yang dapat menghanguskan.
Tiap aliran gerakan itu menimbulkan gerakan yang
berbeda, adakalanya dan itu tidak bekerja tetapi rusak karena gerakan salah
atau pertentangan dua aliran daht. Beberapa aliran penimbul daht di antaranya :
a. Cara Yoga
b. Dahtayana
c. Gerakan khas Shaolin
d. Cara Gerakan Orlug
e. Gerakan Suyi
f. Gerakan Bayroiy
g. Payuk
Perbedaan dengan daht buaian, daht buaian hanya
berlaku untuk orang yang mengkaji sejenis atau tengah marah (dalam batas marah)
dan tidak beracun, diolah melalui bentuk-bentuk senam tanpa adanya jurus-jurus.
Daht asli dapat berlaku bagi siapa saja, tanpa
perbedaan kajian, beracun dapat menghanguskan, mendinginkan, ringan melawan
musuh, meringankan lompatan, menggetarkan musuh melalui suara dan sebagainya,
dilatih dengan cara-cara berjurus dan aturan makanan.
2. Perkembangan ulught (serabut otot terdalam)
Dengan berolah jurus yang teratur dan tertib
dapat menguatkan ulught, tubuh pun terlihat kuat berisi dan berjalan dengan
tegap, tidak mudah terserang penyakit.
Perempuan dan laki-laki mempunyai perbedaan otot
dan ulught yang berbeda, ulught perempuan sangat halus. Seorang perempuan
bertingkah keras berolah serupa laki-laki dapat mengakibatkan rusaknya ulught
dan berubahlah bentuk tubuhnya itu mendekati bentuk tubuh seorang laki-laki,
buah dadanya akan berkerut menjadi kecil, otot lengan pun akan membesar
mendekati otot seorang laki-laki penarik gerobak.
Alam laki-laki dan perempuan itu jauh berbeda,
perempuan bertumpu pada perasaannya dan laki-laki bertumpu pada akalnya. Cara
berpakaian pun dapat mempengaruhi perkembangan ulught, disebabkan keduanya
sangat berhubungan.
Seorang laki-laki
bertingkah seumpaman perempuan atau berpakaian
seumpama perempuan akan terbawa tenggelam dalam alam perempuan dan begitupun
seorang perempuan yang bertingkah dan berpakaian seperti laki-laki akan
tenggelam dalam alam laki-laki. Hal ini diperingatkan oleh Rasulullah e sebagai
berikut :
Rasulullah e melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan
perempuan yang menyerupai laki-laki
(HR. Bukhori)
Rasulullah e melaknat laki-laki yang berpakaian serupa pakaian
perempuan dan perempuan yang berpakaian serupa pakaian laki-laki.
(HR. Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hiban dan Hakim)
Maka jika seorang
perempuan akan berlatih pembelaan diri, hendaklah tidak berjurus serupa
laki-laki dengan keras tetapi hendaklah halus sesuai dengan fitrahnya. Mulailah
dengan senam-senam khas perempuan, atau senam-senam yang sesuai dengan bentuk
tubuh perempuan tersebut.
3. Pertentangan daht yang berlainan
Kerusakan daht akibat belajar dua gerakan yang
tidak serumpun serta keduanya mempergunakan cara pernafasan yang berbeda,
seperti belajar jurus-jurus halus dengan pernafasan lain bersamaan dengan
memperlajari gerakan kasar yang lain pula cara pernafasannya dalam hentakan
kilat akan mengakibatkan pembentukan daht bertentangan kutub dalam saluran ulught.
Kerusakan pada saluran ulught tersebut,
mula-mula impitan butir-butir daht yang bergesek itu menimbulkan bisul-bisul
kecil yang berwarna kemerah-merahan yang menanti pecah. Maka jika didapatkan
gejala pertentangan itu hendaklah menghentikan salah satu aliran, kerjakan
aliran yang sejalan, maka bisul-bisul tersebut akan dapat dihilangkan. Tetapi
bila kita tetap tidak mau menghentikan salah satu aliran, maka bisul tersebut
akan makin bertambah besar dan pada akhirnya akan pecah dan penutup ulught pun
akan mengalami kerusakan.
Kerusakan ulught dapat pula menyebabkan
kerusakan urat serabut saraf sekitar ulught tersebut. Hal ini mengakibatkan
makin derasnya aliran darah yang disebabkan menyempitnya saluran darah, dan
jika ini terus berlanjut akan timbullah penyakit Fuzu namanya. Penyakit Fuzu
sangat berbahaya termasuk jenis penyakit saraf yang dapat timbul pada kepala
berbentuk bisul-bisul kecil ataupun timbul kilatan-kilatan atau kunang-kunang
atau pelangi. Itulah akibat pergesekan daht yang berlawanan yang terpercik
bagai kilatan api.
Apabila ulught itu pecah akan timbullah semacam
borok saraf, dan bila ulught itu putus sukarlah sembarang tabib/dokter
mengobatinya. Jika saraf penghubung otak dan biji mata yang putus, yakni saraf
penglihatan mengakibatkan orang tersebut buta membuka (mata tetap terbuka
walaupun tidak dapat melihat), jika ulught kaki yang pecah, maka sebelah kaki
yang terkena akan mati sebelah, begitupun jika tempat-tempat lain yang terkena
akan kerusakan ulught tersebut.
H. Hubungan
antara Yoga dan Agama Hindu
Dalam kitab Weda
Parikrama hal 171 dijelaskan tentang Pranayama dan hubungannya dengan Yoga,
yang berbunyi sebagai berikut :
Menurut kepercayaan, bahwa Pranayama itu
dimaksudkan sebagai suatu usaha untuk memperkuat kondisi fisik dalam menghadapi
kekuatan-kekuatan bathin yang dapat mengganggu jalannya upacara.
Di dalam ilmu Yoga,
Pranayama merupakan sistem untuk mengendalikan manah dan buddhi dalam rangka
melakukan Yoga. Pranayama adalah sistem pengendalian nafas yang teratur yang
dapat membantu memperkuat pre-disposisi badaniah dalam usaha memperkuat keadaan
daya tahan badan dalam semua usaha kegiatan yang menghendaki kekuatan
konsentrasi pikiran. Penahanan denyut nadi dan jantung, tahan akan panas dan
dingin, imuun terhadap akibat chemika dan lain-lain jenis kemampuan, adalah
merupakan beberapa hasil yang dapat diperlihatkan bagi seseorang yang dapat
menguasai Pranayama dengan baik.
Seorang Yogi yang
sempurna dapat mengatasi semua rintangan dan menundukkan semua penghalang
dengan cara menguasai bio energi (prana) dengan sebaik-baiknya.
1. Cara pernafasan Yoga
Pranayama sebagai suatu sistem terdiri dari atas
beberapa aturan pengaturan pernafasan sebagai berikut :
Mulai dari puraka, menghela nafas dengan
perlahan-lahan, kemudian menahannya (kunbhaka) dan akhirnya melepaskannya
dengan perlahan-lahan (recaka).
Di dalam kitab Yoga Sutra terdapat perhitungan
1, 4, dan 2, dalam pengaturan pernafasan itu. Kadang-kadang cara menghela nafas
melalui salah satu lobang hidung dan mengeluarkannya kembali dari lobang hidung
lainnya, menurut kebiasaan seseorang. Tujuan akhir dari cara pernafasan ini
adalah untuk mencapai kesucian. (lihat Weda Parikrama karangan G. Pudja, M.A.
1971 hal. 171-173).
Jadi jika kita melakukan pernafasan yang seperti
Yoga, maka kita telah meniru peribadatan orang lain, dan ini berarti kita telah
menserikatkan Allah I. Semoga Allah I mengampuni kebodohan kita dan memberikan
petunjuk kepada cara pernafasan yang benar (tidak bertentangan dengan aqidah
kita) amiin.
2. Penghormatan (sikap tangan = Mudra) menurut
Weda Parikrama
Dalam Weda Parikrama karangan G. Pudja, M.A,
hal. 57 dinyatakan sebagai berikut :
Kedudukan Mudra dalam ilmu mistik mempunyai
peranan yang sangat penting, sebagaimana halnya dengan kedudukan Cakra (gambar
simbol) dan mantra-mantra. Mudra dan Cakra dihubungkan pula dengan kompas yang
tiap-tiap arah mata angin mempunyai perwujudan sifat tertentu. Tiap arah dengan
nama Mudra tersendiri dan tiap Mudra melambangkan aspek Dewata dengan arti
tujuan tertentu.
Untuk mengkaji suatu cabang ilmu, khususnya
dalam segi pembelaan diri hendaknya kita mengetahui secara persis dari mana
datangnya ilmu tersebut. Apakah ada masalah agama yang terkait di dalamnya,
baik dari segi penghormatan, lambang-lambang, cara pernafasannya, jika ada dan
bertentangan dengan Islam hendaknya kita tinggalkan. Karena apalah artinya
suatu ilmu yang hebat jika kita melanggar perintah Allah I dan Rasul-Nya, dan
di akhirat nanti kita akan dituntut oleh Allah I karena kita tidak menggunakan
hati kita, mata kita, telinga kita untuk tidak terjerumus dalam suatu perkara
yang dilarang oleh Allah I dan Rasul-Nya.
Firman Allah I :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak
mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan
hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”
(Q.S. Al-Israa’ : 36)
Carilah latihan suatu
beladiri yang tidak berhubungan dengan masalah agama baik dari segi ajaran,
penghormatan, lambang, pernafasan dan sebagainya.
Kajilah pernafasan yang
tidak berhubungan dengan Yoga, karena Yoga itu tata cara ibadat orang lain
(bukan Islam).
Kajilah
pernafasan-pernafasan binatang karena binatang itu tidak mempunyai agama, dan
kita akan bebas dari permasalahan peniruan suatu agama.
Untuk menegakkan sesuatu
yang hak haruslah dengan cara yang hak pula.
BAB 3
CATATAN PENTING
THIFAN PO
KHAN ALIRAN TSUFUK
A. Pelatihan Beladiri yang Baik
Suatu pelatihan beladiri
disebut baik jika sudah memenuhi kriteria berikut :
1. Teknik beladirinya memang baik
Yaitu tidak menyalahi kesehatan dan membuat
orang yang berlatih mampu percaya diri dan mampu diuji teknik beladirinya.
Suatu teknik beladiri dianggap baik dan lengkap
jika beladiri tersebut mampu melakukan teknik pertempuran (turgul) jarak dekat
, sedang dan jauh.
- Teknik pertempuran Jarak dekat
berarti beladiri tersebut memiliki teknik-teknik
patahan, kuncian, bantingan, teknik sikut, teknik lutut, teknik kepala dan
teknik bergumul.
- Teknik pertempuran Jarak sedang
berarti beladiri tersebut memiliki teknik-teknik
tendangan dan tipuan.
- Teknik pertempuran Jarak jauh
berarti beladiri tersebut harus mampu melakukan teknik
lompatan yang memerlukan jarak.
2. Metode pelatihan beladirinya baik
Kapan suatu metode pelatihan beladiri disebut
baik ? Jawabnya : jika metode beladiri tersebut mampu mencetak orang-orang yang
mahir dalam beladiri, tanpa membuat orang yang berlatih beladiri mengalami
cidera (bebas dari segi kesehatan) dan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
3. Waktu pelatihan yang tepat
Waktu pelatihan yang tepat yaitu seseorang tidak
boleh memforsir pelatihannya ketika orang tersebut sedang mengalami kondisi
fisik yang menurun. Maka untuk itulah setiap orang yang berlatih beladiri harus
mampu menghitung siklus kesehatannya, (siklus kesehatan berlangsung 23 hari,
siklus emosional berlangsung 28 hari dan siklus intelektual berlangsung 33
hari).
4. Instruktur yang profesional
Menurut penelitian 65 – 70 % faktor instruktur
mempengaruhi baik tidaknya latihan seseorang, sedangkan bakat berpengaruh hanya
0 – 20 % saja.
B. Meningkatkan Stamina
dalam Pelatihan Beladiri
Stamina seorang tamid
bertambah baik jika ia mampu mengkombinasikan beberapa hal berikut dengan baik,
yaitu :
1. Methodologi pelatihan yang baik
Dalam hal ini teknik beladiri yang dipelajari
harus mampu membuat kesehatan seseorang dari hari ke hari bertambah baik bukan
sebaliknya membuat stamina makin bertambah buruk bahkan terjadi cidera fisik.
2. Makan dan minum sesuai dengan standard gizi
seorang tamid
Dalam hal ini seorang tamid harus mampu
menghitung kebutuhan gizi yang dibutuhkan bagi dirinya. (Thifan Po Khan aliran
Tsufuk telah mengajarkan tata cara menghitung gizi pada para pembimbing).
3. Faktor aktifitas
Jika aktifitas seseorang tidak sesuai dengan
kemampuan fisiknya dan kebutuhan gizi untuk menunjang aktifitas tersebut,
pastilah tubuhnya akan mengalami kelelahan dan pada akhirnya akan mengalami
kerusakan. Untuk itu seorang tamid harus menjaga aktifitasnya agar tetap dalam
kondisi yang prima.
4. Faktor psikis
Faktor psikis ini akan mempengaruhi tiga faktor
tersebut di atas. Bayangkan jika anda sedang dilanda stress, maka apa yang akan
terjadi ? Latihan menjadi malas, makan dan minum tidak teratur dan aktifitas
akan terganggu. Untuk itu bina ruhiyah anda dengan tuntunan Al-Qur’an dan
As-Sunnah dengan bersandar pada hadits-hadits yang shohih.
C. Mengapa Tidak Ada Push-Up di dalam Thifan Po Khan Aliran
Tsufuk ?
Mengapa tidak ada
push-up di dalam Thifan ? Alasannya sebagai berikut : Otot manusia pada
dasarnya dapat memanjang sekitar 130% dari asalnya atau dapat memendek sekitar
70% dari asalnya, jika kita melakukan push-up, maka kita akan memendekkan otot
kita dan apa yang terjadi jika kita memendekkan otot kita dalam pandangan
beladiri ?
1. Kita akan mudah lelah diakibatkan ketika
panas otot harus berkontraksi (memuai) memerlukan energi yang besar akibat otot
telah dipadatkan (dipendekkan).
2. Gerakan kita akan lambat karena diakibatkan
otot tidak lentur sehingga mengikat gerakan-gerakan kita. Ingat !!! jika kita
bermain senjata tajam diperlukan kecepatan, apabila kita lambat maka lawan akan
menusukkan senjatanya terlebih dahulu ke badan kita.
3. Daya atau kekuatan pukulan tidak maksimal,
untuk memahami ini kita bayangkan alat pelontar (ketapel), mana mungkin batu
akan terlempar jauh jika karet pelemparnya pendek. Begitupun pukulan kita jika
akan menghasilkan kekuatan pukulan yang hebat kita harus memanjangkan otot
kita, bukan sebaliknya.
4. Permukaan kulit yang membungkus otot akan
melebar, kita bisa melihat orang yang suka melakukan push-up otot lengan
bertambah besar, hal ini disebabkan karena ototnya dipendekkan, yang membuat
permukaan kulit bertambah lebar, yang pada akhirnya nanti di hari tua akan
membuat masalah karena kulit yang telah melebar tidak akan kembali ke asal dan
akhirnya akan terjadi lipatan-lipatan kulit.
D. Pelatihan Beladiri
Harus Disesuaikan dengan Tingkat atau Kelompok Usia
Jika kondisi ini
dilanggar, maka kita akan mendzolimi saudara kita, alasannya sebagai berikut :
1. Kelompok Umur 6 – 10 tahun
Pada usia ini, sendi anak-anak sedang elastis
sekali, untuk itu tidak boleh diberikan latihan yang membuat sendi jadi tidak
elastis. Contoh : anak-anak diberi beban dalam melakukan gerakan-gerakan.
2. Kelompok umur 8 – 11 tahun untuk perempuan
dan 10 – 13 tahun untuk laki-laki
Pada usia ini, anak-anak lagi mengalami
pertambahan berat yang cepat daripada tingginya, oleh karena itu pada usia ini
anak-anak tidak boleh melakukan teknik-teknik bantingan karena akan menghambat
pertumbuhannya.
3. Kelompok umur 11 – 13 tahun untuk perempuan
dan 13 – 15 tahun untuk laki-laki
Pada kelompok umur ini otot dan tendon lebih
lambat pertumbuhannya dari pertumbuhan tulang, pada kelompok usia ini anak-anak
tidak boleh diajarkan teknik-teknik yang membuat pendeknya otot dan tendon
seperti teknik bantingan, push-up, kemudian teknik yang terbilang high
impact (seperti senam lantai).
4. Kelompok umur 13 – 15 tahun untuk perempuan
dan 15 – 19 tahun untuk laki-laki
Pada kelompok ini kita boleh melakukan hal yang
umum dalam pelatihan beladiri Thifan karena pada usia-usia ini pertumbuhan
tinggi, berat, otot, tendon dan tulang dalam keadaan seimbang.
5. Kelompok umur 40 tahun ke atas
Dalam pelatihan kelompok ini perlu dilakukan
pertanyaan yang berkaitan dengan fisiknya, misal apakah ia tidak mengalami
pengeroposan tulang? Jika ya, maka teknik loncat atau lompat, benturan harus
sudah dihindari.
BAB 4
SEJARAH MUNCULNYA
THIFAN PO
KHAN
Kita ketahui bahwa hampir setiap jenis beladiri
mempunyai cerita atau riwayat masing-masing, hanya saja munculnya riwayat
tersebut terkadang sangat sulit untuk dibuktikan secara ilmiah.
Hal ini terjadi di
antaranya karena riwayat ataupun sejarah munculnya beladiri, mungkin tidak
menjadi perhatian khusus bagi para ahli sejarah manapun untuk diungkap secara
tertulis, atau mungkin baru dirintis pada awal abad modern sekarang ini, itupun
masih sangat terbatas sekali.
Kalaupun hendak diadakan
penelitian yang sesuai dengan metode ilmiah,
yang berkaitan dengan penelusuran sejarah munculnya suatu beladiri, maka
akan menemukan berbagai kesulitan untuk mendapatkan bukti-bukti dan
kesaksian-kesaksian tentang kejadian masa dahulu dan kini.
Pada umumnya, para
pelaku ataupun para pendiri aliran beladiri tersebut tidak menuliskannya dengan
jelas, kapan didirikannya (tanggal, hari, bulan dan tahun), di mana tempatnya
(asal negara, propinsi dan suku bangsanya) dan pada masa apa atau siapa
(kerajaan/ dinasti/pemerintahan) ? ataupun bukti-bukti nyata lainnya berupa
benda-benda bersejarah kalau orang-orang beladiri tersebut pernah menciptakan
senjata-senjata khusus yang dipakai dalam ilmu beladiri, dan berbagai hal
lainnya yang diperlukan untuk sebuah penelitian. Kalaupun ada, bukti-bukti itu
umumnya tidak lengkap.
Hal ini dapat dimaklumi
penulis, karena dalam dunia beladiri ada hal-hal yang bisa diketahui oleh umum,
tetapi ada pula yang ‘rahasia’, yang hanya diketahui oleh para pelaku/pendiri
dan murid-murid utamanya, ada yang terkitabkan dan ada pula yang tidak, dan ini
pun bertingkat-tingkat, persis seperti yang digambarkan dalam bentuk film-film,
buku-buku cerita ataupun komik-komik, bagaimana kisah-kisah para pendekar
dahulu ataupun sekarang, sangatlah ketat dalam menerima murid yang hendak
belajar, karena memang para pendiri itu merasakan betapa susahnya ketika
mendapatkan ilmu beladiri tersebut.
Rahasia yang dimaksud di
sini adalah teknik-teknik andalan dalam berjurus ataupun ilmu-ilmu dalam/batin
yang dimiliki beladiri tersebut memang harus disembunyikan. Hal ini bisa
dimaklumi karena sesuai dengan filosofi ilmu beladiri bahwa ilmu beladiri itu
diciptakan untuk membeladiri dari serangan/gangguan lawan artinya diusahakan
tidaklah sedikitpun lawan itu bisa mengetahui ‘rahasia’, sebab jika lawan sudah
mengetahui ‘rahasia’ ilmu beladiri tersebut, maka namanya tidak lagi beladiri
tetapi berubah menjadi ‘menyerahkan diri’.
Uraian ini sengaja
penulis ungkapkan karena sesuai dengan apa yang dialami penulis ketika hendak
menuliskan riwayat/sejarah munculnya beladiri Shurulkhan Nie Thifan Po
Khan. Tetapi tidak juga berarti penulis hendak berlaku seperti
seorang peneliti sejarah, karena banyak sekali instrumen yang tidak dimiliki
oleh penulis, di antaranya adalah literatur-literatur yang sangat minim.
Walaupun demikian
tidaklah menjadikan pesimis bagi penulis, karena ada hal-hal tertentu yang
pasti bisa disimak oleh siapa pun khususnya bagi para pecinta beladiri, yaitu
adanya teknik-teknik/gerakan-gerakan yang khas yang ada pada berbagai jenis
beladiri tersebut, dan hal ini secara nyata bisa kita saksikan dalam berbagai
perguruan-perguruan beladiri yang ada di sekitar kita, terlepas dari asli atau
tidaknya beladiri tersebut.
Karena kekhasan itulah
yang juga bisa membedakan antara beladiri yang satu dengan yang lainnya. Hal
ini adalah sebagai bukti awal bagi penulis bahwa ilmu beladiri tersebut memang
pernah eksis atau ada.
A. Awal Perkembangan Thifan Po Khan
Thifan adalah nama suatu
daerah di Negeri Turkistan Timur, daerah jajahan China yang kemudian diganti namanya
menjadi Sin Kiang, yang artinya Negeri Baru (Lihat Turkistan: Negeri Islam Yang
Hilang, DR. Najib Kailany). Namun kalau kita simak dalam peta dunia, yang akan
kita temukan adalah nama Turfan, daerah otonomi yang termasuk dalam wilayah
China Utara.
Turkistan Barat dijajah
oleh Rusia yang memasukkannya ke dalam wilayah Uni Sovyet. Sebelum Islam datang
ke daerah ini, beberapa suku asli seperti Tayli, Kimak, Doghan, Oirat, Kitan,
Mongol, Naiman, dan Kati telah memiliki sejenis ilmu beladiri purba berbentuk
gumulan, sepak tinju dan permainan senjata yang dinamakan "kagrul",
yang dipadukan dengan pengaturan napas Kampa.
Dakwah Islam mulai
disebarkan di Turkistan kira-kira pada dua
abad setelah hijriah, sebagaimana tertulis dalam Kitab Zhodam :
"Maka tatkala sampailah dua abad lepas
hijrah orang-orang sempadan tanah China arah utara itu masuk Islam.
Lalu ilmu pembelaan diri masa mereka memeluk Budha itu dibawanya pula dalam
alam Islam, tetapi ditinggalkannya segala upacara yang bersangkut paut dengan
kebudhaannya seumpama segala penyembahan, cara bersalam dengan mengatupkan
kedua belah tangan, lambang-lambang, dan segala istilah."
(ZHODAM, Telif Syiharani, halaman 9).
Menurut M. Rafiq Khan
dalam bukunya "Islam di Tiongkok", mengatakan sebagai berikut :
“Orang Muslim pertama yang datang di Tiongkok
ialah dalam zaman pemerintahan Tai Tsung, kaisar kedua dari dinasti Tang
(627-650 Masehi). Jumlah mereka ada empat orang, seorang berkedudukan di
Kanton, yang kedua di kota Yang Chow, yang ketiga dan yang keempat berdiam di kota Chuang Chow. Orang
yang mula-mula mengajarkan Islam ialah Saad bin Abi Waqqas, yang meletakkan
batu-batu pertama mesjid Kanton yang terkenal sekarang sebagai Wai-Shin-Zi,
yaitu Mesjid untuk kenang-kenangan kepada Nabi”
Dituliskannya pula bahwa
selama Pemerintahan Tai Chong (Kaisar ke-2 dari Dinasti Tsung tahun 960-1279
Masehi) Tiongkok diserbu oleh penguasa Muslim dari Kashgharia, yaitu Baghra
Khan beserta pasukannya, lalu menduduki Sin Kiang (Simak : Islam di Tiongkok;
M. Rafiq Khan dan Sejarah Da’wah Islam; Thomas W. Arnold).
Hal ini disepakati oleh
seorang China ahli sejarah terkenal yang bernama Prof. Chin Yuan menyatakan
bahwa orang-orang Islam mengirimkan utusan-utusan mereka ke Tiongkok dalam
tahun 651, utusan-utusan itu bertemu dengan Kaisar Tiongkok di Changan
(Sianfu), ibukota Tiongkok pada waktu itu. Pada tahun 713 M. perbatasan barat
Tiongkok dikuasai oleh seorang jenderal Arab yang terkenal bernama Qutaiba bin
Muslim, pada waktu itu ia telah menaklukkan daerah yang luas di Asia Tengah dan
namanya sangat ditakuti.
Dari uraian di atas
dapat dilihat bagaimana hubungan atau interaksi antara dakwah Islam dengan
tumbuhnya berbagai macam beladiri di kawasan Tiongkok, sehingga terjadi pula
Islamisasi beladiri. Sesuai dengan bahasa Urwun yang merupakan bahasa asalnya,
Thifan Po khan berarti "Kepalan Tangan Bangsawan Thifan". Beladiri
ini mempunyai riwayat tersendiri yang khas sebagaimana diceritakan dalam kitab
yang bernama Zhodam.
B. Bagan Asal-Usul Thifan Po
Khan
|
A. Ilmu pembelaan diri purba (Kagrul) bercampur kumfu China Purba
|
|
|
||
|
B. Kumfu China Purba, Kampahana, Tomosozhu,
Yoga, Dahtayana (Shorim Shaolin)
|
||||
|
C. Ilmu Gulat Mogul, Tatar, Saldzyuk, Silat
Kitan, Tayli.
|
Bagan di atas dapat
diuraikan lagi secara lebih terinci. Pada awalnya ada sejenis cara pembelaan
diri purba berbentuk gumulan, sepak tinju dan permainan senjata yang disebut
Kagrul, bercampur Kumfu China Purba. Dulu, adalah seorang pendeta Budha bernama
Ponitorm/Tamo Sozhu/Tatmo/Darma Taishi yang berasal dari Hindustan.
Dia mengembara ke China
untuk menyebarkan ajarannya.
Dalam pengembaraannya
sampailah ia ke kawasan Liang yang diperintah oleh Raja Wu, karena terkena
fitnah ia melarikan diri dan sampai di Bukit Kao, di sana ia merenung selama 9 tahun. Menyadari
murid-muridnya sering mendapat gangguan, baik dari binatang buas, manusia, atau
penyakit yang mengakibatkan kurang lancarnya misi penyebaran agama Budha, maka
ia pun menyusun suatu rangkaian gerak pembelaan diri seperti tersebut di atas.
Campuran Kumfu China
Purba dengan Kampahana Tinju Hindustan yang diatur dengan jalan pernapasan Yoga
Dahtayana membentuk Shourim Kumfu/Shaolin Kungfu di wihara-wihara. Pengkajian
beladiri ini disusun dalam Kitab I Zen Zang serta ilmu batinnya dalam
Kitab Hzen Souzen. Sampai di sini ada kesamaan sejarah dengan beladiri
lain seperti Shorinji Kempo, Karate, dan lain-lain, yang masih satu sumber.
Aliran Shourim terus
berkembang ke arah utara China
dan memasuki daerah orang Lama (Tibet)
dan orang Wigu (Turki). Di sana
aliran Shourim ini pun pecah menjadi berpuluh-puluh cabang. Setiap cabang pun
berkembang dan terpengaruh alam tempat pertumbuhan aliran tersebut. Pecahnya
aliran ini disebabkan Dinasti yang berkuasa tidak menyukai orang Shourim.
Tersebutlah seorang
bangsawan bernama Je'nan dari Suku Tayli yang pandai ilmu Syara dan terkenal
sebagai ahund (ustadz atau guru) muda. Je'nan menghimpun ilmu-ilmu beladiri itu
dan ia pun berguru pada pendekar Namsuit serta orang-orang Wigu. Bersama para
pendekar Muslim lain yang memiliki keahlian ilmu Gulat Mogul, Tatar, Saldsyuk,
Silat Kitan, Tayli, mereka pun membentuk sebuah aliran bernama Shurul Khan.
Dari Shurul Khan inilah
terbentuk sembilan aliran seperti yang tersebut di atas. Aliran-aliran ini
kemudian digubah, ditambah, ditempa, dialurkan, lalu dipilah, diteliti dan
dikaji sebagai cikal bakal munculnya Thifan. Pada masa itu pengaruh Islam sudah
masuk ke dalam beladiri ini.
C. Jurus dan Gerakan Thifan Po Khan
1. Jurus-jurus persiapan : diambil dari sepak
tinju suku Wigu.
2. Tingkat Dasar : diambil dari gerakan campuran
berbagai gerakan binatang dari cerita Pendekar Namsuit.
3. Jurus-jurus Turaiyt : diambil dari ilmu
perkelahian Pendekar Mogul, Nana Fun.
4. Jurus-jurus Bergulat : diambil dari gerakan
orang Turki, Tatar, Monsyu, Saldsyuk dan Kay suku Pantai.
5. Langkah (Tusyug) : diambil dari gerakan
sebelas suku di daerah Thifan yaitu suku-suku selatan di China.
6. Khimo : diambil dari siasat suku Kitan,
Tayli, Shourim, dan binatang.
7. Jurus-jurus Konlut : diambil dari gerakan
unggas berkelahi, bertahan, dan lain-lain.
8. Fuen Lion : diambil dari gerakan berbagai
jenis binatang cengkrik, ular, kelelawar, dan lain-lain.
9. Tawgi Kotlu : diambil dari gerakan binatang,
pembelaan diri Tatar, Saldsyuk,
China dan
berbagai jenis Kungfu Purba Tezi dan Szanding.
10. Badur : diambil dari Aliran Tayakan Suku
Mutang, Binatang Laut, Bentuk Bunga, Lilin, Selendang dari Tayli, Gerakan Suku
Kitan, Mongol, Doghan dan China.
Seluruh gerakan itu
diubah untuk melengkapi Shurul Khan. Selain ilmu tersebut di atas, dalam materi
pelajaran beladiri ini juga diajarkan ilmu Awasin Al Kay dari Arab, tusuk jarum
dari China, tusuk saraf dari Persia, dan lain-lain, juga permainan senjata
seperti Toya, Shourim, Kungfu purba, permainan pedang Kurdi, permainan panah
Mongol, permainan senjata Keway dari Anak Suku Wigu, serta ilmu Senzho yang
merupakan gubahan berbagai suku. Karena itu Shurul Khan Thifan Po Khan termasuk
aliran yang lengkap, karena segala aliran ada di dalamnya.
Inti materi latihan
Thifan Po Khan dibagi menjadi enam bagian, yaitu :
1. Sentai (Senam)
Senam merupakan latihan dasar yang penting,
karena mendukung jurus-jurus lain yang diajarkan kemudian. Senam tersebut
meliputi : senam kepala (leher), bahu, tangan, jari, perut, pinggang, dan kaki.
Ketujuh komponen tubuh inilah yang mendukung seseorang dalam melakukan gerakan
serangan maupun bertahan.
2. Tawe (jurus)
Jurus dibagi menjadi :
a. Teknik Jurus : Tangan kosong (teknik kepalan
dan tangan terbuka yang terkumpul dalam 2028 jurus), serta permainan senjata
(sekitar 20 jenis yang terkumpul dalam 5028 jurus)
b. Teknik penggunaan jurus. Semua anggota badan
bisa dijadikan senjata seperti kepala, sikut, tangan, lutut, telapak kaki, dan
sebagainya. Tangkisan bisa dilakukan dengan tangan dan kaki, sedangkan teknik
serangan dibagi menjadi 5 macam :
1) menyerang dengan teknik merapat
2) memanfaatkan tenaga lawan
3) mengimbangi tenaga lawan
4) menggunakan jarak/jangkauan
5) menggunakan teknik bertubi-tubi
3. Tusyug (langkah)
Langkah kira-kira ada 164 macam cara melangkah
yang intinya ada 5 cara, yaitu :
a. geser
b. patah
c. lompat
d. putar
e. pilin
4. Sikla (pasangan)
5. Khimo (tipuan)
Khimo dibagi menjadi 5 jenis
a. khimo langkah
b. sikla khimo
c. khimo yang berbentuk jurus
d. khimo tangkisan
e. khimo senjata
6. Teknik pernapasan binatang buas
Ada 12 tingkat jenjang latihan yang berlaku di
Thifan Po Khan. Setiap tingkat memakan waktu sekitar satu tahun. Namun ada juga
program khusus, tergantung pada kemajuan murid. Pada program ini waktu bisa
lebih dipersingkat.
D. Ciri Khas Thifan Po
Khan
Salah satu ciri khas
beladiri Thifan adalah teknik pembelaan diri yang selalu membiarkan lawan
terlebih dahulu menyerang. Dengan demikian gerakan lawan dapat diamati, apakah
mematikan atau tidak, kemudian teknik yang digunakan lawan tersebut digunakan
untuk balik menyerangnya.
Untuk mencapai tahap
kemampuan seperti tersebut di atas, ada dua hal pokok yang harus dimiliki :
1. Ketenangan
Ketenangan dapat dicapai jika dua unsur pokok
dalam diri manusia dapat dipadukan dengan selaras, yaitu Unsur Jasadiyah yang
terlatih dengan baik dan Unsur Ruhiyah yang terbina dalam pemahaman aqidah yang
shahih.
2. Kelincahan.
Kelincahan didapat dengan melatih teknik-teknik
yang ada dalam jurus-jurus Thifan secara tertib, disiplin dengan target sesuai
dengan jenjang tingkatnya.
Kaidah-kaidah yang
terdapat dalam Kitab Thifan Po Khan harus dilaksanakan sebagaimana adanya.
Artinya, tidak boleh menambah-nambah tanpa ilmu yang jelas karena dalam
beladiri kita bergerak menggunakan sistem otot, saraf, dan lain-lain.
Jadi apabila salah
bergerak, bukannya sehat yang didapat tetapi sebaliknya, akan mengakibatkan
sakit. Sebagai contoh, penyakit hernia dapat diakibatkan oleh latihan pernapasan
yang salah.
E. Tradisi Lanah-lanah Thifan Po
Khan
Tradisi yang diajarkan
di lanah-lanah atau lembaga pesantren dengan doktrin Thifan Po Khan, di
antaranya adalah :
1. Tidak menyekutukan Allah, tidak percaya pada
takhayul, khurafat, dan tidak berbuat bid'ah dalam syara.
2. Berusaha amar ma'ruf nahi munkar (mengajak
berbuat kebajikan dan melarang berbuat kemungkaran).
3. Bertindak teliti dan tekun mencari ilmu.
4. Tidak menganut asas ashobiyah (kesukuan, atau
kelompok).
5. Tidak menggunakan lambang-lambang, upacara-upacara, dan
penghormatan-penghormatan yang menyalahi syara.
Adanya doktrin ini
disebabkan karena pada hampir semua beladiri terdapat paham agama/isme tertentu
yang muncul dari adat/kepercayaan. Beladiri ini adalah beladiri khas muslim yang
diwakafkan untuk umat Islam yang mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah.
F. Perkembangan di Indonesia
Pada masa Sultan Malik
Muzafar Syah dari Kerajaan Lamuri yang hidup sekitar abad ke-16 didatangkan
pelatih-pelatih dari Turki Timur yang kemudian disebarkan ke kalangan para
bangsawan di Sumatera (dapat dilihat dalam Kisah Raja-raja Lamuri/Raja Pasai).
Pada abad ke-18 Tuanku
Rao dan kawan-kawan mengembangkan ilmu ini ke daerah-daerah Tapanuli Selatan
dan Minang, hingga tersebar ke Sumatera bagian Timur dan Riau yang berpusat di
Batang Uyun/Merbau. Kemudian, sekitar tahun 1900-an ilmu ini dibawa oleh Tuanku
Haji (Hang) Uding yang menyebarkannya ke daerah Betawi dan sekitarnya.
Beladiri khas ini pun
disebarkan oleh orang-orang Tartar ke pulau Jawa sambil berdagang kain.
Sedangkan di luar pulau Jawa lainnya ilmu beladiri ini disebarkan oleh
pendekar-pendekar lainnya sampai ke Malaysia dan Thailand Selatan
(Patani).
Masuknya Thifan ke pulau
Jawa ada yang langsung dan tidak langsung. Khususnya di Jawa Barat, Thifan Po
Khan dikembangkan/diteruskan oleh aliran Tsufuk atas bimbingan Ustadz A.D. El
Marzdedeq.
Perlu diketahui, bahwa
aliran Tsufuk ini muncul ketika masuknya Thifan Po Khan ke Indonesia dengan sistem pengajaran dalam bentuk
yang tidak baku,
disebabkan penyebarannya masih terbatas.
Karena besarnya animo
kaum muslimin untuk mempelajari beladiri Thifan Po Khan, maka aliran Tsufuk
membentuk sistem pengajaran yang baku
tanpa meninggalkan kaidah-kaidah Thifan Po Khan yang benar.
Demikianlah sedikit
uraian singkat tentang beladiri Shurul Khan Nie Thifan Po Khan, penulis merasa
uraian ini masih banyak kekurangannya, walaupun demikian ada hal lain yang
lebih pokok adalah bahwa tulisan ini merupakan informasi tambahan wawasan bagi
kaum muslimin di seluruh penjuru tanah air.
BAB 5
MENGANALISA BERBAGAI
MACAM HAMBATAN DAN ISSUE
YANG MENYEBABKAN
KEGAGALAN PEMBIMBING THIFAN PO KHAN
Seperti kita ketahui
setidaknya ada 3 (tiga) faktor utama yang menentukan keberhasilan untuk
mempelajari keterampilan beladiri. Tiga faktor penentu tersebut adalah:
1. Siap meluangkan waktu untuk berlatih.
2. Siap mengeluarkan dana untuk aktifitas
pelatihan.
3. Memiliki pembimbing yang profesional dan
bertanggung jawab akan kemajuan murid.
Dari tiga faktor utama
tersebut di atas, faktor point ke tiga memiliki peranan yang sangat besar,
karena pembimbing yang profesional akan memberikan kemajuan yang sangat berarti
bagi tamidnya (muridnya).
Lain halnya dengan
pembimbing yang hanya bermodalkan keberanian tanpa dilengkapi dengan latar
belakang yang cukup untuk memberikan pengajaran. Pembimbing seperti ini pada
akhirnya akan membuat tamid gagal dalam berlatih beladiri atau bahkan membuat
tamid rusak akibat salah berlatih.
Masalah ini pula yang
terjadi dalam Thifan Po Khan, banyak sekali pelatih yang hanya bermodalkan
membaca kitab Thifan Po Khan (Terjemahan Melayu oleh Hang Nandra Abubakar Tahun
1920), kemudian memberikan pengajaran yang pada akhirnya akan membuat tamid
tersesat di dalam hutan belantara Thifan Po Khan yang setiap saat dapat
memangsa fisik tamid.
Dengan dasar di ataslah
penulis mengambil tema tersebut, Penulis bermaksud memberikan gambaran kepada
kaum muslimin yang berfaham Al-Qur’an dan As-Sunnah yang ingin mempelajari
Thifan Po Khan, mempunyai barometer untuk memilih pembimbing yang betul-betul
memahami kaidah Thifan Po Khan.
Ketidak mampuan
pembimbing/pelatih Thifan Po Khan dalam memahami kaidah Thifan Po Khan yang
benar, diakibatkan berbagai macam hambatan/kendala, di antaranya :
A. Tidak Mempunyai Sanad yang Jelas
Hampir semua
pembimbing/pelatih Thifan Po Khan tidak mempunyai sanad yang jelas, ini terjadi
karena akibat beberapa hal :
1. Menyebarnya kitab Thifan Po Khan, sehingga
banyak pembimbing/pelatih yang hanya bermodalkan membaca kitab langsung menjadi
pelatih.
2. Melihat peluang
bisnis karena banyaknya permintaan pelatihan.
3. Menganggap bahwa Thifan Po Khan itu milik
umat Islam dan jadi harus diajarkan walaupun sebenarnya belum pantas untuk
mengajar.
B. Tidak Mengetahui Cara
Membaca Kitab Thifan Po Khan yang Benar
Perlu diketahui bahwa
kitab Thifan Po Khan bukanlah kitab yang mudah untuk dimengerti isinya. Untuk
sampai memahami isinya perlu belajar cara membacanya kepada pembimbing yang
betul-betul telah dianggap mampu. Untuk membaca dan menafsirkannya sesuai
dengan kaidahnya, karena bila pelatih salah menafsirkan isi kitab Thifan Po
Khan dan mengajarkan-nya, sudah dapat dipastikan akan terjadi kerusakan fisik
bagi yang mempelajarinya. Kalau ini terjadi, di mana tanggung jawab anda
sebagai pembimbing/pelatih ? Bukankah yang kita latih itu saudara kita sendiri,
kaum muslimin.
C. Tidak Komprehensif
dalam Memahami Kaidah Thifan Po Khan
Untuk memahami kaidah
Thifan Po Khan yang benar perlu adanya studi yang komprehensif, dan diperlukan
wawasan yang luas untuk memahami hal ini. Pembimbing/pelatih harus mempunyai
berbagai macam masukan dari berbagai macam nara sumber yang betul-betul ahli di
bidangnya. Dan pembimbing/pelatih juga harus memiliki berbagai macam buku
referensi beladiri dan penunjangnya.
Dengan adanya nara sumber dan buku-buku
tersebut, pembimbing/pelatih mempunyai bekal yang cukup untuk memahami kaidah
Thifan Po Khan yang benar. Studi komprehensif ini sangat bermanfaat untuk
menemukan jati diri Thifan Po Khan yang sebenarnya.
D. Tidak Memahami Akan Terjadinya Kerusakan
Fisik Jika Salah Berlatih
Seperti kita ketahui,
berlatih beladiri berkaitan erat dengan sistem otot, saraf, organ pernafasan,
sistem tulang dan lain-lain, karena setiap kali kita melakukan gerakan berarti
kita menggetarkan sistem-sistem tersebut di atas. Jika teknik menggetarkannya
dan menggerakkannya salah, maka akan terjadi kerusakan dalam jangka pendek
maupun jangka panjang.
Beberapa contoh kerusakan :
1. Hernia : Salah satu penyebab Hernia adalah
salah dalam melakukan teknik pernafasan perut. Perut yang seharusnya ditekan ke
luar tetapi malah ditekan ke bawah. Hal ini menyebabkan penyangga perut tidak
mampu menahan bobot tekanan.
2. Memukul-mukul benda keras dengan tangan tidak
terbungkus akan mengakibatkan kerusakan-kerusakan saraf dan tulang tangan.
3. HNP (Hernia Nuklaus Pulpasus) : Robeknya
tulang punggung akibat mengangkat benda berat melebihi kemampuan (ini sering
terjadi bagi mereka yang suka berlatih beladiri dengan mengangkat beban-beban
berat).
4. Memukul leher di bagian belakang telinga, hal
ini akan mengakibatkan kerusakan saraf karena di bagian tersebut terdapat
batang otak yang merupakan pusat sistem saraf. Jika hal ini berlangsung terus
akan mengakibatkan parkinson.
5. Memaksakan gerakan-gerakan berat kepada orang
yang belum pernah berlatih gerakan tersebut. Hal ini dapat mengakibatkan
menurunnya aliran darah pada otot dan akan menimbulkan rasa sakit diakibatkan
kontraksi penguatan otot yang berlebihan.
6. Melakukan gerakan-gerakan baru yang tidak
terdapat dalam kajian beladiri tersebut. Hal ini dapat menyebabkan jaringan
otot terkoyak.
Untuk menghindari
hal-hal tersebut di atas, pembimbing/pelatih harus dibekali pengetahuan global
tentang sistem-sistem yang disebutkan di atas. Hal ini sangat perlu karena yang
kita bimbing adalah saudara kita kaum muslimin dan untuk ini kita harus
memberikan yang terbaik pada mereka.
E. Tidak Mempunyai
Bentuk Baku dalam Sistem Pengajaran
Penulis sering mendengar
keluhan dari para tamid (murid) tentang sering berubahnya teknik jurus ataupun
teknik pelatihannya (metode pelatihan). Hal ini terjadi karena memang Thifan Po
Khan yang diajarkan Ustadz A.D. El Marzdedeq tidak mempunyai bentuk baku. Hal ini karena berbagai
macam alasan, salah satu alasannya agar Thifan Po Khan berhati-hati dalam
merekrut tamidnya.
Bentuk baku ini diperlukan dalam rangka pembinaan
berjenjang tamid, menganalisa kemajuan tamid dan menentukan target yang ingin
dicapai/diinginkan. Dengan adanya bentuk baku
ini kemungkinan munculnya perbedaan gerakan (teknik pelatihan, teknik jurus dan
lain-lain) dapat kita hindarkan. Hal ini penting agar tidak memunculkan
aliran-aliran baru (yang diketahui 18 aliran) dan juga
penting agar tamid tidak menjadi bingung terhadap satu dengan yang lainnya.
Bentuk baku yang harus kita miliki mencakup beberapa
hal penting, di antaranya :
1. Metode pelatihan.
2. Persamaan jurus/teknik (materi pelatihan)
3. Jenjang tingkatan dan cara pengujiannya
4. Pelatihan khusus bagi pembimbing yang terus
menerus.
5. Bentukan baku yang lain untuk
menunjang kemajuan tamid.
F. Tidak Tertib dalam Memberikan Pengajaran
Banyak sekali kita
temukan yang mengajarkan Thifan Po Khan tidak berdasarkan target, tetapi
berdasarkan pembimbing itu sendiri, sehingga kita jumpai pembimbing memberikan
materi yang tidak berkaitan satu sama lain (tidak saling menunjang). Ini
membuktikan sesungguhnya pembimbing tersebut belum memenuhi syarat untuk mengajarkan,
dan apa yang terjadi ? Pelatihan tidak berlansung lama dan yang paling membuat
kita prihatin adalah ilmu Thifan yang mereka dapat dibawa ke dalam beladiri
lain.
Seperti sering kita
lihat senam Thifan dipakai dalam beladiri lain, lalu di mana tanggung jawab
anda sebagai pembimbing/pelatih ?
G. Tidak Tertib dalam Administrasi
Seperti dalam masalah
tersebut di atas, banyak sekali pembimbing/pelatih yang menerima tamid tidak
tertib administrasinya, hingga tamid yang berlatih tidak terdaftar di pusat pimpinan
(Zho Lanah) sehingga perkembangan tamid menjadi tidak jelas karena tidak adanya
ujian yang menentukan kemajuan mereka.
H. Tidak Melakukan Cek
dan Ricek dalam Pemberian Materi Pelatihan
Pada umumnya pembimbing
Thifan jarang sekali melakukan cek dan ricek tentang pemberian materi yang
mereka ajarkan. Hal ini terbukti dengan jarang sekali mendiskusikannya kepada nara sumber Ustadz A.D. El
Marzdedeq.
Sering penulis
menanyakan kepada beliau, apakah ada pembimbing/pelatih yang suka mendiskusikan
masalah materi kajian, beliau menjawab hampir tidak ada. Kalau hal ini terjadi
maka pembimbing memberikan materi pelatihan, kebenarannya hanya menurut
pembimbing itu sendiri.
I. Adanya Misi
Terselubung dari Orang-orang atau Kelompok-kelompok Tertentu
Orang-orang/kelompok-kelompok
ini biasanya berfaham : “Yang penting ilmunya kita dapat dan kita tidak
perlu mengikuti tertib mereka”. Dan setelah mereka mendapatkan
pelatihan/pengajaran, mereka ajarkan lagi kepada orang-orang/kelompok-kelompok
mereka tanpa memberitahukan kepada pusat pimpinan (Zho Lanah) dan kalau ini
mereka lakukan maka mereka akan mewariskan kerusakan fisik kepada
kelompok-kelompok/orang-orang mereka, karena pembimbing mereka sebenarnya belum
mendapatkan legalitas untuk mengajar. Ingat !!! Salah berlatih dapat merusak
fisik anda.
J. Mencari Legalitas
dengan Mengatasnamakan Ustadz A.D. El Marzdedeq
Sering sekali kita
mendengar pembimbing/pelatih yang meyakinkan dirinya telah pantas untuk
mengajar membawa-bawa nama Ustadz A.D. El Marzdedeq, padahal setelah penulis
langsung menanyakan kepada Ustadz A.D. El Marzdedeq, Ustad menjawab : “Saya
tidak menyatakan seperti itu”.
Untuk itulah tamid yang
akan mempelajari Thifan Po Khan, jika mendengar pembimbing/pelatih/orang
mengatasnamakan Ustadz A.D. El Marzdedeq, jangan hanya percaya tetapi mintalah
bukti tertulis, bahwa apa yang pembimbing/pelatih/orang katakan tersebut
betul-betul dari beliau. Hal ini pulalah yang ditekankan Ustadz A.D. El
Marzdedeq kepada penulis, bahwa jika ada issue-issue tersebut, tolong langsung
saja ditanyakan kepada beliau.
K. Memberikan Issue yang Jelek kepada Pelatih
Lainnya
Hal ini dialami sendiri
oleh penulis, banyak pelatih-pelatih lain yang mengissuekan hal-hal yang buruk
terhadap penulis, di antaranya ada 3 (tiga) issue pokok. Tiga issue pokok itu
adalah :
1. Suka berimprovisasi
2. Suka mengambil murid pelatih lain
3. Tidak jelas pemahaman agamanya
Penjelasan penulis sebagai berikut :
1. Dijawab sendiri oleh Ustadz A.D. El Marzdedeq
dalam suratnya kepada penulis, bahwa bentuk baku yang penulis ajarkan sesuai dengan
kaidah Thifan Po Khan.
2. Sama sekali tidak benar. Tamid yang berlatih
kepada penulis datang sendiri dengan berbagai macam keluhan di antaranya :
- Tidak ada kemajuan, padahal sudah berlatih lama (ada
yang sudah 8 tahun).
- Ditinggalkan oleh pembimbing.
Untuk lebih mengetahui issue ini silahkan
bertanya langsung kepada tamid yang belajar kepada penulis.
3. Perlu penulis tekankan bahwa penulis berfaham
janji Thifan dan Insya Allah istiqomah menjalankannya.
Setelah penulis amati
ternyata issue yang ditiupkan kepada penulis ada 3 (tiga) alasan pokok, yaitu :
1. Takut kehilangan murid (tamid).
2. Takut kehilangan mata pencaharian.
3. Menganggap penulis orang baru di Thifan
(lebih junior).
Dengan adanya
keterangan-keterangan di atas, kaum muslimin yang berfaham Al-Qur’an dan
As-Sunnah yang berminat belajar Thifan Po Khan diminta teliti untuk mencari
pembimbing yang benar-benar memiliki syarat-syarat sebagai berikut :
1. Mempunyai sanad yang jelas (ditegaskan secara
tertulis).
2. Profesional, dalam arti :
- Mengerti tentang sistem baku pengajaran.
- Mengerti bagaimana membuat tamid dari hari ke
hari bertambah kemajuannya.
- Mempunyai tanggung jawab moril yang besar.
Demikianlah fakta yang
penulis temukan dan kumpulkan di lapangan, semoga informasi di atas dapat
berguna bagi pembimbing maupun kaum muslimin yang berfaham Al-Qur’an dan
As-Sunnah yang ingin belajar Thifan Po Khan.
Marilah kita jujur pada
diri kita sendiri untuk menggunakan akal kita sebelum mengambil keputusan untuk
mempelajari atau mengajarkan Thifan Po Khan.
Semoga tamid pengkaji Thifan Po Khan
berjaya dalam lindungan Allah I.
BAB 6
TANGGUNG JAWAB MORIL
THIFAN PO
KHAN ALIRAN TSUFUK
A. Beberapa Temuan Masalah
1. Besarnya keinginan dalam kalangan kaum
muslimin untuk mempelajari beladiri, untuk itu diperlukan suatu beladiri yang
Islami, yang jauh dari perbuatan-perbuatan khurafat, takhayul, bid’ah serta
macam-macam cara (penghormatan) atau menggunakan lambang-lambang
(simbol-simbol) yang tidak Islami.
2. Latihan beladiri menyangkut pelatihan sistem
saraf, sistem tulang, otot dan organ-organ penunjang lainnya. Untuk itulah
tidak boleh sembarang orang mengkaji tanpa dibekali pengetahuan yang cukup
tentang sistem-sistem tersebut di atas. Jika hal ini diabaikan, maka sudah
dipastikan akan terjadi kerusakan-kerusakan dalam tubuh orang tersebut, baik
dalam jangka pendek ataupun jangka panjang.
3. Telah banyak timbul penafsiran tentang buku
beladiri Thifan Po Khan sehingga banyak sekali para penafsir baru yang tidak
mempunyai syarat sebagai seorang penafsir menafsirkan buku Thifan Po Khan,
akibatnya banyak muncul aliran-aliran baru yang penafsirannya telah jauh dari
kaidah yang diinginkan oleh Thifan Po Khan itu sendiri.
4. Merupakan kewajiban moril bagi setiap
pengajar untuk memberikan yang terbaik bagi tamidnya (murid) sehingga Tamid
menjadi jelas tentang kajian yang diberikan.
Dari hasil-hasil temuan
di atas, aliran Tsufuk yang merupakan hasil penafsiran buku Thifan Po Khan
merasa mempunyai tanggung jawab moril untuk memberikan yang terbaik bagi setiap
pengkajinya karena aliran Tsufuk telah dilengkapi metode pelatihan dan
pengajaran yang dipelajari, diteliti atau dianalisa dalam kurun waktu yang
cukup lama.
B. Beladiri dan Penyebaran Agama serta Isme-isme
Tertentu
Hampir setiap beladiri
secara terselubung menyebarkan agama dan isme-isme tertentu, jika hal ini tidak
diwaspadai, maka kaum muslimin akan terjebak dan secara tidak disadari telah
mengikuti tata cara yang mereka inginkan dan jadilah kita termasuk golongan
mereka.
Contoh :
1. Membuat tanda silang dengan tangan di depan
badan kemudian mengucapkan “hoss” ini adalah cara penghormatan agama
shinto untuk dewa matahari.
2. Menutup kedua telapak tangan di depan dada.
Ini adalah penghormatan kepada dewa tertentu dalam ajaran agama Hindu (Sikap
tangan dinamakan mudra, dan setiap mudra melambangkan dewa; weda parikrama)
3. Lambang-lambang tertentu yang merupakan
aqidah agama/isme lain seperti :
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
= Aqidah Yahudi
|
|
|
|
|
= Aqidah Tao
|
|
|
|
|
= Aqidah Hindu / Budha
dan lain-lain yang harus
kita teliti dan waspadai
C. Pelurusan Niat dalam Berlatih
Pada kurun waktu
tertentu seseorang yang menekuni beladiri akan mencapai titik jenuh dan
kebosanan. Pada kondisi ini dapat terjadi beberapa kemungkinan.
1. Tidak mampu bertahan dan sudah pasti ia akan
mundur dari pelatihan.
2. Mundur untuk sementara waktu dan akan
bergabung lagi pada saat yang tepat.
3. Terus bertahan sampai akhir pelatihan.
Dari kemungkinan-kemungkinan
tersebut di atas sudah tentu yang kita inginkan adalah kemungkinan ketiga yaitu
terus bertahan. Dan menjadi pertanyaan yang menarik bagaimana kita dapat
melewati masa kejenuhan tersebut.
Jawabnya sangat
sederhana, luruskan niat kita tanyakan pada diri sendiri, untuk apa sebenarnya
kita berlatih. Kalau niat kita hanya bersifat duniawi seperti ingin dipuji oleh
manusia atau mengharapkan sesuatu yang bersifat duniawi, maka sudah tentu masa
kebosanan tersebut susah kita lalui, tetapi jika yang kita harapkan adalah
pahala akhirat maka tidak akan ada rasa bosan di dalam kita, karena Allah I
telah berfirman :
“Dan barang siapa menghendaki pahala dunia niscaya
kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala
akhirat kami berikan pahala akhirat itu”
(Ali Imran 145).
Untuk itulah bagi kaum
muslimin yang akan mengkaji beladiri harus terus menanyakan kembali niatnya
dalam berlatih.
D. Cidera dalam Berlatih
Seperti kita ketahui
berlatih beladiri berkaitan erat dengan sistem tulang, sistem otot, sistem
saraf, sistem pernafasan dan pengendalian emosi, satu sama lain terkait erat
dan tidak dapat dipisahkan.
Jika kita melatih diri
(beladiri) tidak tahu tentang sistem-sistem tersebut di atas, sudah dapat
dipastikan kita akan mengalami cidera baik dalam jangka waktu pendek ataupun
jangka panjang.
Contoh-contoh :
1. Hernia, terjadi akibat salah melakukan teknik
pernafasan perut, perut yang seharusnya ditekan ke luar sehingga menjadi
kembung tetapi adalah ditekan ke bawah.
2. Memukul-mukul benda keras dengan tangan yang
tidak terbungkus pelindung akan mengakibatkan kerusakan-kerusakan tulang dan
kerusakan saraf tangan.
3. Mencampuradukkan dua beladiri yang tidak
sealiran dengan metode pengkajian yang berbeda. Kerusakan yang terjadi dapat
dilihat dengan munculnya bisul-bisul kecil di bagian tubuh tertentu dan jika
diteruskan pengkajiannya maka saraf muka akan terputus.
4. Melakukan gerakan baru yang tidak terdapat
dalam kajian beladiri tersebut. Hal ini dapat membuat jaringan otot terkoyak (Connective
Tissue Damage).
5. Memaksakan gerakan-gerakan berat kepada orang
yang belum pernah berlatih gerakan tersebut karena dapat mengakibatkan
menurunnya aliran darah pada otot dan rasa sakit karena kontraksi penguatan
otot yang berlebihan.
6. Salah melakukan latihan-latihan peregangan
Contoh :
Gerakan di atas dapat memeras potongan tulang
belakang dan menjepit urat-urat saraf.
Untuk mengurangi
kemungkinan cidera di atas diperlukan seorang pembimbing yang benar-benar
mengerti tentang bagaimana cara melatih yang baik, bukan seorang pembimbing
yang berimprovisasi (mencoba-coba) gerakan baru yang mana dia sendiri tidak
mengetahui dampaknya bagi tamid-tamidnya.
Hal ini sering kita
jumpai pada pelatih Thifan Po Khan yang sering berimprovisasi dengan
menafsirkan sendiri buku Thifan Po Khan tanpa memiliki syarat yang harus
dipenuhi jika ingin menafsirkan buku Thifan Po Khan.
Ingat !! kita jangan
bermain-main dengan resiko, karena yang kita latih adalah saudara-saudara kita
kaum muslimin.
E. Asal-Usul Timbulnya Aliran Tsufuk
Aliran Tsufuk (Tikus
Termenung) timbul akibat rasa tanggung jawab moril untuk memberikan yang
terbaik kepada kaum muslimin dalam pengkajian beladiri Thifan Po Khan.
Menurut penulis tidak
ada standar baku
dalam metode pelatihan maupun pengajaran sehingga sering kali seorang pelatih
tidak mempunyai konsep untuk melatih dan tidak dapat memberikan
perbaikan-perbaikan kepada tamidnya karena tidak ada data untuk menganalisa
kemajuan tamidnya dan cidera merupakan hal yang sering terjadi di dalam turgul
akibat tidak diketahuinya konsep berturgul yang baik.
Hal lain yang mendasar
adalah banyaknya hambatan untuk menyatukan konsep pelatihan maupun pengajaran
akibat masing-masing pelatih merasa telah mampu menafsirkan dengan baik buku
Thifan Po Khan, sehingga timbullah aliran-aliran baru yang pada akhirnya
membingungkan para tamid, karena setiap tamid Thifan Po Khan akan
bertanya-tanya jika bertemu dengan tamid lainnya yang berbeda pelatih karena
berbedanya kajian yang diperolehnya.
Berdasarkan
alasan-alasan tersebut di atas maka penulis menyusun satu aliran tersendiri
yang mempunyai metode pelatihan yang telah diterapkan selama beberapa tahun
serta mempunyai target yang dapat memberikan bukti nyata bagi keberhasilan
tamid-tamidnya.
Pada dasarnya yang
dipelajari di dalam Thifan Po Khan aliran Tsufuk yaitu apa yang terdapat di
dalam buku Thifan Po Khan dan ditambah dengan permainan senjata seperti toya,
pedang satu, pedang dua, samurai dan lain-lain. Mungkin yang membedakannya
dengan aliran Thifan yang lain adalah mempunyai tahapan pelatihan yang jelas
dan sistematis dan selalu mengamati perkembangan tamidnya melalui analisa data
dalam laporan kemajuan setiap tamid (progress chart).
Berlatih beladiri harus
dengan sistematika yang jelas karena jika tidak maka resiko terkena cidera
sangat tinggi, untuk itulah diperlukan pembimbing yang mengerti tentang cara
melatih yang baik dan benar dan merupakan tanggung jawab moril yang berat bagi
seorang pembimbing karena seorang pembimbing harus dapat membuat para tamid
terus-menerus mengalami kemajuan baik dari segi beladiri atau dari segi
kesehatan fisik.
Daftar Pustaka
Departemen Agama R.I., Al-Qur’an
Al-Karim.
Ahmad Ibn Ruman, Awaasin
Alkay
DR. Najib Kailany, Turkistan, Negeri Islam Yang Hilang,
DR. Yusuf Al Qardhawy, Niat
dan Ikhlas
G. Pudja, Weda
Parikrama
Grant Donovan, Jane Mc
Nhmara, Peter Gianoli, Exercise Danger, 30 exercise to avoid plus 100 safer
and more effective alternatives.
Louis Proto, Self
Healing, Use Your Mind to Heal Your Body.
M. Rafiq Khan, Islam
di Tiongkok.
Michael J. Alter, MS., 300
Teknik Peregangan Olah Raga.
Neil F. Gordon, Arthritis
You Compelete Exercise Guide.
Prof. G. La Cava cs., Basic
Book of Sport Medicine
Siharani, Kitepni
Dhat wa Naht.
Siharani, Kitepni
Thifan Po Khan
Siharani, Kitepni
Zhodam.
Thomas Kurz M.Sc., Stretching
Scientificalyy, a guide to flexibility training.
Thomas W. Arnold, Sejarah
Da’wah Islam
Ustadz A.D. L. Marzedeq,
Parasit Aqidah
Zeans Ph.d., Masuki
Zona
Kliping Dzikir Nafas
Makalah-makalah Thifan
Po Khan aliran Tsufuk.

Komentar