Langsung ke konten utama

ESENSI IDUL FITRI

 
Idul Fitri menjadi tanda bahwa puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Tapi bukan berarti datangnya idul fitri ini disambut dengan makan-makan dan minum-minum yang tak jarang terkesan dipaksakan dan diada-adakan oleh sebagian keluarga.
Kebiasaan seperti ini harus dijauhi dan dibenahi, sebab selain kurang mengekspresikan makna idul fitri sendiri, yang seharusnya dimaknai sebagai ‘Kembalinya seseorang kepada fitrah asalnya yang suci‘ sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim seorang ibu. dengan arti, bahwa kelahiran kembali ini berarti seorang muslim selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyamullailnya, dan ibadah-ibadah lainnya harus mampu kembali berislam secara kaafah, tanpa ada rasa iri hati, benci, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.
Idul Fitri berarti kembali kepada naluri kemanusiaan yang murni, kembali kepada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak Islami, Inilah makna Idul Fitri yang asli.
Salah kaprah apabila Idul Firi dimaknai dengan ‘Perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum‘ sehingga tadinya dilarang makan di siang hari, setelah hadirnya Idul Fitri akan balas dendam, atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan kemudian. Karena Ramadhan sudah usai maka kemaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan.
            Ketika merayakan Idul Fitri setidaknya ada tiga sikap yang harus kita punyai, yaitu:
1.        Rasa penuh harap kepada AllahSWT (Raja’). Harap akan diampuni dosa-dosa yang berlalu. Janji Allah SWT akan ampunan itu sebagai buah dari “kerja keras” sebulan lamanya menahan hawa nafsu dengan berpuasa.
2.       Melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasa yang kita lakukan telah sarat dengan makna, atau hanya puasa menahan lapar dan dahaga saja Di siang bulan Ramadhan kita berpuasa, tetapi hati kita, lidah kita tidak bisa ditahan dari perbuatan atau perkataari yang menyakitkan orang lain. Kita harus terhindar dari sabda Nabi SAW yang mengatakan banyak orang yang hanya sekedar berpuasa saja: “Banyak sekali orang yang berpuasa, yang hanya puasanya sekedar menahan lapar dan dahaga“.
3.        Mempertahankan nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan semangat dalam ibadah karena lewatnya bulan Ramadhan, karena predikat taqwa sepantsnya berkelanjutan hingga akhir hayat. Firman Allah SWT: “Hai orang yang beriman, bertagwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kati kamu mati melainkan dalam keadaan ber-agama Islam ” (QS. Ali Imran: 102).

Komentar