Idul
Fitri menjadi tanda bahwa puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan
makan minum di siang hari. Tapi bukan berarti datangnya idul fitri ini disambut dengan makan-makan dan
minum-minum yang tak jarang terkesan dipaksakan dan diada-adakan oleh sebagian
keluarga.
Kebiasaan seperti ini harus dijauhi dan dibenahi, sebab selain kurang
mengekspresikan makna idul fitri sendiri, yang seharusnya dimaknai sebagai ‘Kembalinya seseorang kepada fitrah asalnya yang suci‘
sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim seorang ibu. dengan arti, bahwa
kelahiran kembali ini berarti seorang muslim selama sebulan melewati
Ramadhan dengan puasa, qiyamullailnya, dan ibadah-ibadah lainnya harus mampu
kembali berislam secara kaafah, tanpa ada rasa iri hati, benci, dengki, serta bersih dari segala
dosa dan kemaksiatan.
Idul
Fitri berarti kembali kepada naluri kemanusiaan yang murni, kembali
kepada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari segala kepentingan
duniawi yang tidak Islami, Inilah makna Idul Fitri yang asli.
Salah kaprah apabila Idul Firi dimaknai dengan ‘Perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum‘
sehingga tadinya dilarang makan di siang hari, setelah hadirnya Idul
Fitri akan balas dendam, atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan
berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan kemudian. Karena
Ramadhan sudah usai maka kemaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan.
Ketika merayakan Idul Fitri setidaknya ada tiga sikap yang harus kita punyai, yaitu:
1. Rasa
penuh harap kepada AllahSWT (Raja’). Harap akan diampuni dosa-dosa yang
berlalu. Janji Allah SWT akan ampunan itu sebagai buah dari “kerja
keras” sebulan lamanya menahan hawa nafsu dengan berpuasa.
2. Melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasa yang kita lakukan telah sarat dengan makna, atau hanya puasa menahan lapar dan dahaga saja Di siang bulan Ramadhan kita berpuasa,
tetapi hati kita, lidah kita tidak bisa ditahan dari perbuatan atau
perkataari yang menyakitkan orang lain. Kita harus terhindar dari sabda
Nabi SAW yang mengatakan banyak orang yang hanya sekedar berpuasa saja: “Banyak sekali orang yang berpuasa, yang hanya puasanya sekedar menahan lapar dan dahaga“.
3. Mempertahankan
nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan semangat dalam
ibadah karena lewatnya bulan Ramadhan, karena predikat taqwa sepantsnya berkelanjutan hingga akhir hayat. Firman Allah SWT: “Hai
orang yang beriman, bertagwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa
kepada-Nya dan janganlah sekali-kati kamu mati melainkan dalam keadaan
ber-agama Islam ” (QS. Ali Imran: 102).

Komentar