Langsung ke konten utama

MENYELAMI LAUTAN HIKMAH ISRA MI’RAJ

 


Isra mi’raj adalah perjalan spiritual suci Nabi Muhammad SAW sekaligus salah satu bentuk kekuasaan Allah SWT. Peristiwa ini juga merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hamba terkasihnya setelah mengalami peristiwa-peristiwa yang membuat hati beliau dilanda kesedihan yang mendalam.

Rasulullah SAW ditinggalkan oleh 2 orang terkasih sekaligus, yakni istri tercintanya sayidah Khodijah pendukung utama dan pertama dakwahnya dan Abu Thalib paman yang menjaga dan melindungi beliau dari kejahatan kaum musyrik Quraiys.

Di saat yang sama tekanan, ancaman, tindak kekerasan dan boikot beliau dan para sahabat terima dari kaum Musyrik Quraisy yang terus berupaya keras menghancurkan perjuangan dakwah beliau SAW.

Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makah  ke Masjidil Aqsha di Palestina. Adapun Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Bumi menuju ke langit ke tujuh di  Sidratul Muntaha  untuk berjumpa dengan Allah SWT. Allah SWT abadikan peristiwa itu dalam firman-Nya; 

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS al-Isra : 1)

Ditinjau dari sisi yang berbeda, peristiwa ini memberikan hikmah dan pelajaran bahwa dalam dunia dakwah seorang mujahid dakwah perlu berhenti sejenak untuk merefresh fikiran, mengolah jiwa agar mendapatkan suasana yang menggairahkan dalam proses dakwah selanjutnya. Suasana refresh digunakan untuk menyusun rencana dakwah ke depan agar dapat mencapai target yang lebih optimal.

Di era milenial dan digital saat ini tribulasi dakwah sangatlah komplek. Dengan kekuatan media digital, musuh-musuh Islam berkolaborasi menghancurkan dan mengaburkan nilai-nilai Islam dari berbagai lini. Gerakan penyesatan liberalisme memengaruhi dan meracuni pemikiran umat Islam. Paham materialisme dan hedonisme Barat sekuat tenaga mereka sebarkan demi mempengaruhi paradigma hidup umat Islam.

Hal itu jelas tantangan berat bagi para mujahid dakwah. Oleh karena itu sangat penting bagi mujahid dakwah untuk berhenti sejenak membuat perencanaan dan program evaluasi yang jelas demi tercapainya target dan tujuan dakwah yang lebih terukur dan terorganisir. Sebagaimana dilakukan oleh Nabi SAW, berhenti sejenak dari hiruk pikuk perjuangan dakwah lalu berkontemplasi dalam perjalanan Isra dan Mi'raj. Selepas itu, dakwah Islam semakin menguat dan menyebar. Islam dicari dan digemari sampai mendapatkan momentumnya dalam Hijrah yang diberkahi.

Komentar